Tampilkan postingan dengan label Be Green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Be Green. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 10, 2008

Naksir Perabot!


Di kelas bisnis kapal Windu Karsa Dwitya yang aku naiki dari Bakauheni-Merak kali ini, aku menemukan satu perabot yang bagus. Satu perabot multifungsi yang terdiri dari tempat sampah terpilah untuk 3 jenis sampah, tempat penyimpan tabung pemadam kebakaran, dan bagian atas dibuat untuk menaruh tanaman hias. Di bagian belakang, ada sofa dimana aku gunakan untuk istirahat ketika menghabiskan waktu penyebrangan selama lebih kurang 2,5 jam.

Kapal ini sebelumnya adalah milik negara Jepang (sstt…aku hanya menebak, karena seluruh petunjuk di dalam kapal di tulis dalam bahasa dan tulisan Jepang, dengan translate dalam bahasa Inggris di bawahnya). Dan aku tidak yakin kalau ada orang kita yang membeli dalam keadaan baru, itu makanya aku menduga sebelumnya ini adalah kapal milik Jepang. Selain dari tulisan2, interior dalam kapal ini juga bersih dan menarik. Dan tempat sampah ini adalah bagian yang aku paling tertarik.

Namun, ketika kulongok (baca: mengintip he2) bagian tempat sampahnya di dalamnya, aku membayangkan si desainer pasti akan sangat kecewa (atau malah marah2) jika dia tahu hasil desainnya tidak dimanfaatkan dengan baik disini. 3 bagian ruangan yang seyogyanya untuk menempatkan sampah terpilah, minimal utk 3 jenis sampah yang berbeda yaitu plastik, organik dan kertas (mungkin...), tapi di kapal di Indonesia ini tetap saja semua jenis sampah masuk di ketiga bagian tempat sampah itu!

Minggu, April 13, 2008

Kebenaran Plastik (2)




Fakta tentang plastik lagi neeehh...

KESATU: Tas plastik dibuat dari sumber daya alam yang langka yaitu minyak dan menciptakan polusi mulai dari pembuatan sampai pembuangannya. 120 juta barel minyak mentah , sumber alam yang tidak dapat diperbaharui, diperlukan untk produksi satu trilion kantong plastik setiap tahun diseluruh dunia

KEDUA: Plastik menimbulkan masalah sampah di jalan-jalan , sungai dan saluran air, pantai dan lingkungan kelautan.47% sampah yang terbawa angin dari tempat pembuangan akhir, sebagian besar adalah kantong plastik

KETIGA: Sekitar 80% sampah dilautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik. Dalam bulan Juni 2006 program lingkungan PBB memperkirakan setiap mil persegi ada 46,000 sampah plastik mengambang dilautan

KEEMPAT: Suatu laporan. Sampah Plastik Dilaut Dunia, oleh Greenpeace, menyatakan bahwa sedikitnya 267 jenis biota laut telah menderita dari jeratan atau mencerna sampah laut. Diperkirakan 1 juta burung laut menelan atau terjerat jaring plastik atau sampah lainnya setiap tahun

KELIMA Kantong plastik dianggap sebagai produk yang dapat dibuang dan tidak hancur ditempat pembuangan. Diperlukan 1,000 tahun bagi plastik untuk terurai dan hancur.

KEENAM Hanya 0.6% s/d 1% kantong plastik yang dapat didaur ulang diseluruh dunia, sisanya tetap mengendap ditanah

KETUJUH Sampah plastik yang dibuang sembarangan menyumbat saluran air dan menyebab kan banjir

KEDELAPAN: Sampah tas plastik yang dibuang ke saluran air mengakibat kan genangan air yang menjadi sarang pembiak an nyamuk penyebab pe nyakit demam berdarah

KESEMBILAN: Negara dan kota-kota yang telah melarang atau mengurangi penggunaan kan tong plastik adalah San Francosco, Hong Kong, Singapura, Australia, Irelandia,Taiwan, Mumbai Scotlandia, Perancis, Tanzania, Switzerland, Denmark, Jerman, Africa Selatan, Philippina dan terakhir adalah Australia dan China

KESEPULUH Pengenaan cukai sebesar 15 sen atas tas belanja plastik di Republik Irlandia telah menurunkan pemakaian nya sampai dengan 90%.

Sabtu, April 12, 2008

Kampanyekan Bahaya Kantong Plastik Sejak Dini

Sebagian besar masyarakat kita memang belum memahami mengapa kita harus mengurangi pemakaian plastik kresek. Jangankan masyarakat awam, ketika hal ini coba saya tanyakan kepada mahasiswa (Teknik Kimia) yang notabene komunitas yang seharusnya memiliki informasi lebih tentang ini, ternyata tidak semua bisa 'berfikir kritis' ttg hal ini, lah apalagi anak2:-/

Dan mungkin bbrp hal berikut ini bisa mengingatkan kita semua akan pentingnya usaha mengkampanyekannya minimal kepada keluarga, teman dan anak2 kita:
1. Konsumsi akan plastik untuk beberapa kebutuhan memang hampir tidak dapat dihindarkan, sehingga untuk mengganti total pemakaian plastik dengan bahan lain tentu sangat tidak memungkinkan, sehingga hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah PENGURANGAN KONSUMSI PLASTIK
2. Bahan baku plastik konvensional adalah minyak bumi. Kita dapat bayangkan seberapa besar minyak bumi yang diproduksi menjadi plastik untuk seluruh kebutuhan di dunia. Coba kita hitung saja berapa banyak plastik yang kita gunakan dalam sehari, mulai dari plastik pembungkus belanjaan dapur, plastik air minum kemasan, plastik pembungkus snack, plastik pembungkus belanjaan di supermarket, hingga plastik kemasan diapers or pembalut wanita, dll. Jika jumlah itu kita kalikan jumlah manusia yang juga menggunakan plastik dalam kesehariannya, maka dapat kita bayangkan berapa jumlah total konsumsi plastik kita. Walaupun saat ini juga telah dan sedang dikembangkan riset2 tentang bioplastik yaitu plastik yang diproduksi dari bahan2 terbarukan seperti kelompok pati2an, namun produk ini masih sangat terbatas karena biaya produksi yang masih sangat mahal.
So jangan komplain jika harga BBM semakin naik, karena stok minyak bumi pun semakin terbatas!
3. Pasca penggunaan. Menurut saya, plastik bekas yang akan kita buang itulah yang menyimpan masalah terbesar. N beberapa infonya sudah saya tulis di sini.

Usaha pencerdasan masyarakat adalah hal penting yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan kita semua dalam hal ini. Dan kayaknya kita (siapapun: guru, mahasiswa, dokter, ibu rumah tangga, karyawan dll) juga harus mulai mengikuti langkah2 yang telah dilakukan oleh beberapa kelompok yang memang perduli seperti Geng Anti Kresek di Yogyakarta, dan juga IDEP Foundation di Bali!

oh ya, posting ini terinspirasi artikel dari Kompas 11 Februari 2008 berikut ini:
Kampanyekan Bahaya Kantong Plastik sejak Dini

Bandung, Kompas - Kesadaran mengurangi penggunaan kantong plastik dalam kehidupan sehari-hari harus ditanamkan sejak dini karena kantong plastik tidak dapat terdegradasi di alam.

Hal ini diingatkan Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Skala Usaha Kecil Kementerian Negara Lingkungan Hidup Tribangun L Song di sela-sela Kampanye Antikantong Plastik di Kampus Institut Teknologi Bandung, Sabtu (9/2).

Kegiatan yang dimotori Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB ini diikuti ratusan pelajar, mahasiswa, artis, dan aktivis lingkungan hidup di Kota Bandung.

Di berbagai negara maju, kampanye antikantong plastik (white pollution) sudah menjadi hal lumrah. Pemerintah China dan Australia bahkan telah mengeluarkan kebijakan larangan bagi supermarket dan toko-toko membagi-bagikan plastik undegradable (tidak dapat terurai).

Muhammad Chairul, dosen Teknik Lingkungan ITB, mengatakan, sampah plastik rata-rat memiliki porsi sekitar 10 persen dari total volume sampah. Dari jumlah itu, sangat sedikit yang didaur ulang. Padahal, sampah plastik berbahan polimer sintetik tidak mudah diurai organisme dekomposer. Butuh 300-500 tahun agar bisa terdekomposisi atau terurai sempurna.

Membakar plastik pun bukan pilihan baik. ”Plastik yang tidak sempurna terbakar, di bawah 800 derajat Celsius, akan membentuk dioksin. Senyawa inilah yang berbahaya,” ujarnya.

Kamis, April 10, 2008

On Text..

”Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap tetes hujan yang tercurah dari langit, setiap nikmat yang dianugrahkan Allah akan diminta untuk dipertanggungjawabkan”. Kalimat Ini adalah penjelasan Nabi tentang ayat kedelapan surah Al Takatsur yang berbunyi: ”Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”

Penjelasan ini baru 'aku tangkap dg kesadaran penuh', ketika sedang mencari2 literatur dari AlQuran yang memberi tuntunan ttg Lingkungan Hidup yang memang tidak banyak yang menjelaskan secara lugas, namun pastinya itulah 'tugas kita' utk lebih 'membaca' lagi.

Dan sebelum ini, ketika membaca kalimat Allah dalam Alquran surah itu dan ayat itu, aku mengartikan hanya yang tertangkap sakelijk pada teksnya. Aku hanya menangkap bahwa kita tidak diperbolehkan bermegah2an, berlebih2an dalam membelanjakan atau menggunakan apa yang kita miliki, dan lebih kepada bagaimana menggunakan rezeki yang kita peroleh, harus dipergunakan sebaik2nya di jalan yang Allah bolehkan, tidak dihambur2kan, dan harus mengingat untuk berbagi dengan orang lain.

Ternyata, ada penjelasan yang jauh lebih luas dan lebih dalam dari sekedar ’teks’ yang ditangkap.

Karena ternyata dari satu ayat itu saja, sudah dapat menunjukkan bahwa kita tidak saja dituntut agar tidak alpa atau angkuh terhadap ciptaan-Nya, tetapi juga dituntut untuk memperhatikan apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Pemilik (Allah) menyangkut ciptaan itu. Manusia muslim dituntut membagi-bagikan rahmat kepada seluruh alam -alam adalah segala sesuatu selain Tuhan-. Dan ini berarti kita harus dapat bersahabat dengan alam dan harus memberi kesempatan untuk mencapai tujuan penciptaannya. Kita juga harus menghormati proses2 yang tumbuh dan dituntut untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, kelompok atau bahkan jenisnya, tetapi segala sesuatu yang berada di alam raya ini. (Quraish Shihab, ”Kalimat Syahadat dan Lingkungan Hidup”)

So, aku harus mempertanggungjawabkan ketika aku masih boros dengan listrik (walaupun aku sudah menjalankan kewajiban membayar), ketika aku boros menggunakan air, ketika aku membuang ’satu bungkus permen’ (pdh aku sudah membuang sekian banyak sampah2 yang lain sehingga mengotori/mencemari bumi seumur hidupku), ketika aku boros menggunakan kertas, ketika aku memetik bunga atau menebang tanaman (karena ternyata juga ada aturan untuk melakukan hal ini), dan bahkan ketika aku boros dalam berwudhu (karena ternyata Nabi berpesan ’paling banyak membasuh anggota wudhu masing2 adalah sebanyak tiga kali, meskipun Anda berwudhu di sungai yang mengalir’). Dan ini bukan hanya tanggung jawab kita terhadap PLN, PDAM, pemerintah ataupun pihak manapun, melainkan adalah tanggung jawab kepada Tuhan sang Maha Pemilik, karena apa yang ada pada kita hanyalah amanah. Keluarga, teman, sahabat, tetangga, tanah, air, udara, tanaman, hewan dan segala sesuatu yang ada adalah apa yang harus kita jaga, kita ambil manfaat dan hikmah sebaik2nya, searif2nya, menurut ukuranNya.

Whuuaaaa....ternyata banyak sekali hal yang sudah harus kupertanggungjawabkan dalam hidupku yang sudah lewat. Dan ini baru yang dapat ditangkap dari satu ayat saja!!

Sungai Kita..








”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya…....…”Q.S. AlBaqarah: 25.


Sudah lama bertanya2 mengapa ya di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi bangsanya tidak bersih dan arif terhadap lingkungan? Mulai dari sungai2 yang kotor, masalah sampah kota yang berulang kali bermasalah seperti di Jkt, Surabaya dan terakhir di Bandung dan juga masalah2 gunung yang gundul, banjir dimana2, pembalakan hutan secara liar sehingga menimbulkan implikasi yang sangat membuat miris membayangkan bagaimana kehidupan generasi berikutnya. Minyak bumi yang semakin menipis, ozon yang semakin tipis, laut yang semakin tidak bersahabat, bumi yang juga semakin sering bergolak, udara yang tercemari adalah beberapa hal yang sangat patut dipertimbangkan saat ini.

Menurut guru ngajiku waktu kecil, salah satu esensi sholat yang terkait dengan hal ini adalah mendisiplinkan kita di dalam kebersihan. So seharusnya Islam identik dengan bersih. Tetapi menilik kondisi sungai2 kita, sebaiknya kita bertanya lagi, apakah benar kita sudah ’bersih (=menjalankan ajaran Islam dengan benar)’??

Ketika bicara ’lingkungan kotor’, umumnya kita akan langsung berfikir kepada masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai ataupun masyarakat di pasar. Gak jarang kita lupa untuk melihat ke diri sendiri.
”Aku sudah membuang sampah pada tempatnya” atau ”Aku tidak membuang sampah di sungai”, itu adalah jawaban atau pernyataan umum yang sering kita ungkapkan ketika membahas ttg kebersihan sungai.

Tapi pernah tidak kita berfikir bahwa ketika kita membuang sampah ’pada tempatnya’, belum tentu juga sampah itu tertangani dengan benar? Alias sampah2 kita hanya menumpuk di TPS or TPA? Alias masih tetap ada kemungkinan sampah kita tercecer ketika dalam perjalanan menuju TPS or TPA?

Itu bagi yang membuang sampah sudah ’pada tempatnya’, bayangkan jika sebagian besar kita masih juga membuang sampah tidak pada tempatnya. ”Yah, ini cuma bungkus permen, tidak akan ngaruh juga!”, dan besoknya ”Yah, ini Cuma satu gelas air mineral kemasan, sekali2 tidak apa2lah” dan besoknya lagi ”Gakpapa kita buang di sini, toh nanti akan ada petugas-yg sudah dibayar-yang akan membersihkannya” dan lagi dan lagi.....................Jangan heran jika hal ini bukan dilakukan oleh orang awam atau yang kurang pendidikan, tetapi banyak dilakukan oleh aparat pemerintah, polisi, guru, dosen, pegawai, mahasiswa dan sebagian besar masyarakat kita, dan dilakukan di keseharian kita dan juga dalam event2 seminar bahkan seminar pendidikan!
Jadi jangan salahkan juga jika sebagian saudara kita yang tinggal di pinggiran sungai mereka membuang mulai dari ’LIMBAH’ biologi hingga limbah rumah tangga. Mereka toh mungkin sudah tidak sempat untuk memikirkan tentang ’KEBUTUHAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN=SUNGAI’, karena untuk memikirkan ’KEBUTUHAN PAPAN SANDANG PANGAN’ saja sudah menguras banyak energi.

Belum lagi, limbah yang dihasilkan oleh industri baik kecil atau besar yang di buang langsung ke sungai, entah sudah melewati proses pengolahan dengan benar atau tidak. Entah mana yang paling besar berkontribusi terhadap kondisi ini, namun yang pasti kenyataan yang kita punya sekarang adalah banyak SUNGAI DENGAN WARNA KELAM, PENUH DENGAN SAMPAH, BAU, BERBUSA yang tentunya jauh sekali dari fungsinya sebagai salah satu penyedia air bersih bagi kita. Bahkan ada yang menyebut sungai ciliwung juga sbg WC terpanjang di dunia. Fungsi sungai sebagai sarana transportasi masih dapat kita jumpai, walo khusus utk di Jakarta ketika kita naik getek untuk menyeberang, sometimes kita perlu untuk menutup hidung karena bau, dan juga tidak ada keindahan sungai yang dapat dinikmati. So sangat tidak ’manusiawi’ kalau kita membandingkan dg sungai di kota2 besar lain seperti sungai Rhein atau Rideau di Ottawa.

Apakah ini profil bangsa yang selalu kita cita2kan? Yang terdiri dari umat beragama? Yang mengaku beriman? Yang selalu mengatakan ingin masuk surga-Nya ketika kita kembali pulang suatu saat nanti. Dan jikalau kita mau untuk bersama2 introspeksi diri ttg hal ini, dan ’berani’ untuk mengakui bahwa kita juga telah melakukan kesalahan dalam kelalaian & kebelummampuan menjaga sumber karunia Tuhan, mgkn ada hal2 yg bisa mulai kita lakukan dari sekarang dan tidak melemparkan tanggung jawab hanya kepada pemerintah atau orang lain. Yuukkss....!!!

-Sbg yg awam, merujuk ke ayat2 Al Quran surah Al Baqarah & Ali Imran yang menggambarkan sungai2 abadi bagi penghuni surga, aku jadi wonder, karena kalaupun aku bisa masuk surga maka jangan2 sungai2 itu pulalah yang akan aku temui nanti di surga-Nya karena aku juga punya kontribusi untuk itu:-/-

Be Green on ATM

Awalnya sempat bertanya2 kenapa setelah selesai transaksi di ATM sekarang ada opsi utk cetak receipt atau tidak, seingatku kalau dulu langsung az si ATM keluarin receipt transaksi. Ternyata mungkin nyambungnya ke usaha menekan si GLOBAL ‘WARNING’ WARMING.

N berikut info pentingnya:

Be Green on ATM? Kalau di beberapa ATM seperti BCA or BNI kan ada yang ambil duit gak pake receipt tuh…or be smart dong…transfer lewat internet banking atau mobile banking….coz ternyata 8 MILIAR kali transaksi di ATM yang mengeluarkan kertas receipt tiap tahun adalah salah satu sumber sampah terbesar di dunia. Kalau selama setahun orang transaksi gak pake kertas receipt, itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari garis equator sampe 15 kali…gak nyangka yach??ckckck:-)

Kebenaran PLASTIK

Plastik, sesuatu yang amat sangat akrab dg kehidupan kita sehari2. Kalau pernah melewati TPS atau TPA, akan banyak sekali kita lihat sampah plastik menumpuk disana. Dan sometimes kita suka ’sok cuek’ dengan pura2 tidak menyadari dampak negatif yang ditimbulkan jika kita tidak arif dalam menggunakannya. Maksudnya kita tahu bahwa plastik berbahaya bagi lingkungan, tapi merasa tidak tahu harus gmn, karena memang kita sangat membutuhkannya. Seperti juga aku, aku merasa plastik tuh praktis bgt utk membungkus2 or membawa sesuatu. Dan sementara ini cm bisa berusaha minimizing pemakaian, n terus mengulang membaca ‘hal2 yang benar’ di bawah ini utk memotivasi diri he2..(pelajaran SD euy!)
1. Saat kita membuang plastik & apapun yang terbuat dari plastik (misalnya: tas plastik, permen atau bungkus camilan, styrofoam, bahan kemasan spon, dll) akan memerlukan waktu sekitar 200 sampai 400 tahun bagi plastik tersebut untuk terurai.(Coba bayangkan, jika kita membuang bungkus permen hari ini, dan jika nasib si bungkus permen tadi tidak tertangani dalam incenerator, maka itu baru akan hancur 200-400 thn lagi, dimana mungkin tulang2 kita juga sudah gak putih lagi warnanya di dalam tanah, wuiiii…).
2. Membakar plastik melepaskan sampah beracun berbahaya ke atmosfir dan kemudian ke udara yang kita hirup. Menghirup polusi ini dapat menimbulkan dampak negatif serius pada kesehatan kita, termasuk melemahkan sistem kekebalan tubuh dan kanker paru-paru.(Selama ini aku memilih untuk membakarnya, karena pilihan lainnya adalah dibuang ke alam, secara notabene aku masih tinggal di kampung dmana sampah tidak ada yg menangani sperti di kota. So aku n keluarga mengira inilah langkah terbaik dalam menangani sampah plastik. Tapi ternyata ini juga salah, padahal kami juga udah nyaranin ke tetangga2 utk melakukan hal yg sama coz banyak yang masih membuangnya di sungai, so mesti gimana dung??)
3. Jika kita membuang sampah organik yang masih terbungkus plastik atau dalam tas plastik, sampah tersebut tidak akan dapat terurai. Jadi kita harus pastikan mengeluarkan sampah organik kita keluar dari tempat plastiknya sebelum membuangnya.(Kalo yang ini sih amat sangat mudah kita lakukan, setuju kan??)

Dan aku juga suka bertanya2 sendiri, kira2 ini termasuk ‘dosa’ gak yach? secara telah bertahun2 kita (=ada yg komplain, inikan tanggung jawab pemerintah, but menurutku kita secara personal juga harus bertanggung jawab karena kitapun punya kontribusi disitu) melakukan sesuatu yang ‘tidak baik’ terhadap alam yang diciptakan-Nya untuk kita manfaatkan dan kita jaga sebaik2nya, tapi kita malah cemari tanah, udara dan air dengan sampah plastik kita hiks3..:)
Tapi kita gak boleh patah semangat, minimal kita bisa coba kurangi konsumsi plastik dari diri kita sendiri, dan kita bisa pake TAS KAIN sbg penggantinya. Or kalau yg punya modal bisa ikut mengolah sampah plastik, seperti yang dilakukan pendaur2 plastik, salah satunya pa Baedowy dari PT Majestic Buana di Bekasi, n walupun kesannya ‘agak bau’ tapi ternyata keuntungannya besar jg loh). Beliau juga sudah membuka kemitraan dg orang di seluruh Indo.

-n kayaknya no other words but start to use ‘TAS KAIN’ (ikut2 kampanye nih he3…Caiyo3!!!)-