Tampilkan postingan dengan label Being Moslem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Being Moslem. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 06, 2010

Koruptor Itu Bernama "AKU"

Satu sore di musholla salah satu stasiun di Jakarta.
"Bayangin 6,7T yg dimainin ama Boediono dan Sri Mulyani, emang gak punya otak tuh pejabat. Uang rakyat segitu banyaknya bok!"
"Udah jelas koruptor begitu, dasar koruptor a****g semua!"
"Eh lo langsung balik td? ama siapa aja? Sukses gak beli tiket?"
"Iya. Tadi kita bersebelas. Bayar di atas, gak mungkin kena lah gue. Lumayan jg uang transportnya. Lagian tiap hari jg begitu. Eh tunggu gue bentar ya, abis sholat gue bayarin makan deh"

"Oke, cabut yuk!"
"Eh iya bro, benernya ada yg pengen gue bilang. Gue lagi butuh duit. Rumah gue kemarin kena denda dr PLN, ada pemeriksaan mendadak. Biasanya nyokap gue sempet ngumpetin, tp kemaren dadakan jadi dia gak sempet"
"Kok bisa??? Emang saklarnya gk diumpetin?"
"Diumpetin. Padahal dah tahunan gak pernah kena klo pemeriksaan. Kena 2,5 juta, kalo gak dibayar, listrik diputus. Dasar kurangajar juga tuh PLN"

Kamis, Januari 28, 2010

Bisik Tuhan

Sepertinya Tuhan berbisik kepadaku:

"Kehendakku padamu melebihi dari yg kamu perhitungkan dg ilmu matematikamu yg tidak seberapa itu...
Kamu tidak Kuperkenankan berhenti di sini dan harus melakukan lebih banyak hal lagi, lebih dan lebih...
Dan yakinlah, akan Kuberikan bonus utk setiap harga dari ujian yang aku amanahkan padamu, itu jika kau tidak sedikitpun meragukan-Ku"


---------

Doa Patah Hati

Berharap segala sakit dan pahit yg aku rasakan dapat semakin mengingatkan dan menyadarkanku atas segala kekurangan dan kesalahanku, dan semakin menguatkanku untuk terus memperbaiki diri dengan konsisten...

"Aku mohon kekuatan,dan Engkau memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat ...
Aku mohon kasih sayang, dan Engkau memberiku orang yang dalam kesulitan untuk ditolong...
Aku mohon kemurahan, dan Engkau memberiku kesempatan-kesempatan..."

Berharap Bisik-Mu senantiasa mengiringi langkahku...Amien.

Januari 2010

Jumat, Februari 20, 2009

Para Ahli Kubur dari Jombang

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Tulisan ini saya bikin dengan asumsi dasar bahwa para pembaca percaya ada Allah dengan kekuasaan-Nya. Di salah satu tayangan televisi, muncul seorang kiai dengan nasihat sangat bijak, kurang-lebih begini: "Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt...."

Sangat pendek tapi cespleng. Media massa sangat mengerti kecerdasan masyarakat, sehingga cukup pendek saja. Setiap yang mendengarkan fatwa itu meneruskan sendiri dalam hati dengan logikanya: "Jangan minta kesembuhan kepada dokter, dokter itu makhluk. Jangan minta kepada pil dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu makhluk. Jangan berlaku syirik, sehingga menjadi manusia musyrik."

Ya Allah ya Rabbi ya Karim, wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Kalau Nabi Musa pegang tongkat, bersama pasukannya dikejar tentara Firaun, mendapat perintah dari Allah, "Pukulkan tongkatmu ke air laut!" Lantas laut terbelah, pasukan memasuki belahannya, kemudian Firaun dan tentaranya mengejar ke belahan itu, namun tenggelam karena air menutup kembali, mohon dengan sangat jangan simpulkan bahwa yang dipegang Musa itu "tongkat sakti", sehingga Nabi Musa juga "Maha Dukun" yang sakti.

Mohon dengan sangat, jangan rumuskan bahwa tongkat Nabi Musa mampu membelah laut, mampu menerbitkan mata air dari batu kering, meskipun insya Allah bisa bikin pecah kepala kita. Apalagi lantas dengan metodologi ilmiah tertentu, para pakar meneliti tongkat itu mengandung zat dan energi apa sehingga air samudra terbelah olehnya. Kalau besok paginya Anda minta kepada Nabi Musa untuk membelah air laut lagi, percayalah air laut tak akan terbelah. Sebab, yang membuat laut terbelah bukanlah Musa atau tongkatnya, melainkan perintah atau perkenan Allah.

Lha Allah ini pemegang saham dan the only resources dari seluruh "alam semesta ini dengan segala ketentuan hukum dan perilakunya”. Hak absolut Allah untuk menyuruh orang membelah laut dengan tongkat atau dengan meludahinya. Kalau Musa pukulkan tongkat lagi ke laut tanpa perintah-Nya, dijamin tak terjadi apa-apa. Atau besoknya Tuhan suruh Musa "Berteriaklah keras-keras!", lantas tiba-tiba laut terbelah lagi ditambah gunung ambruk dan air sungai membalik arah arus airnya, itu sepenuhnya terserah-serah Tuhan.

Makhluk, juga dokter atau dukun, batasnya adalah mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Tapi pengambil keputusan untuk sembuh atau hak dan kuasa untuk menyembuhkan ada pada Allah. Terserah Dia juga mau bikin sembuh orang sakit pakai cara bagaimana dan alat apa. Bisa tongkat, bisa batu, bisa air, bisa karena ditempeleng, bisa dengan apa pun saja semau-mau Tuhan. Yang diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia juga. Mau kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul, Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Kalau Anda dan saya tidak setuju, Tuhan "tidak patheken" juga. Dia Maha Pemilik Saham segala sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja.

Kalau seorang suami pergi lama tugas ke kota yang jauh, sehingga bawa celana dalam istrinya, mohon jangan simpulkan bahwa dia penggemar celana dalam, kemudian Anda coba rebut celana dalam itu untuk Anda selidiki, bahwa dia mengandung zat-zat dan bebauan apa, sehingga seorang tokoh besar membawa-bawanya ke mana pun pergi. Kalau pas di kamar hotel sendirian suami itu mencium-ciumi celana dalam, mohon jangan dikonklusikan bahwa ternyata ia punya penyakit jiwa dan harus dibawa ke psikiater. Ya Allah ya Rabbi ya Karim, yang diciumi oleh suami itu bukan celana dalam, melainkan cintanya kepada sang istri dan komitmen kesetiaan di antara mereka.

Wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, kalau saudara-saudaramu naik haji dan berebut mencium Hajar Aswad, itu bukan karena mereka stone-mania atau ngefans sama batu. Mereka sedang meneguhkan kesadaran bahwa mereka sangat butuh Allah dalam hidupnya, maka mereka mengukuhkan cinta kepada makhluk yang paling dicintai Allah, yakni Rasulullah Muhammad Saw. Dan karena dulu Muhammad juga mencium batu hitam itu, padahal jelas beliau tidak punya hobi makan batu, maka mereka menyatakan di hadapan Allah cinta mereka kepada Muhammad. Mudah-mudahan dengan itu mereka kecipratan cinta Allah kepada Muhammad, sehingga Allah memperlakukannya sebagai bagian dari yang paling Ia cintai.

Kabarnya Nabi Musa ketika memimpin pasukan kejaran Firaun itu mendadak sakit perut di tengah lari-lari. Musa mengeluh kepada Allah, dan Allah memerintahkan agar Musa naik bukit ambil daun dari sebatang pohon untuk menyembuhkan sakit perutnya. Musa naik dan, sebelum menyentuh daun, perutnya sudah sembuh. Tolong jangan ambil konklusi "Itu daun mujarab banget, belum disentuh, perut udah sembuh". Musa balik ke pasukannya, mendadak sakit perut lagi. Ia langsung naik ke bukit, tapi sesudah makan sekian lembar daun perutnya tak sembuh-sembuh juga. Musa protes kepada Allah. Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh kegelian: "Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa menyembuhkan perutmu? Meskipun daun itu mengandung unsur-unsur yang secara ilmiah memang rasional bisa menyembuhkan perutmu, Aku bisa bikin tetap tidak menyembuhkan. Tadi waktu sakit perut yang pertama kau mengeluh kepadaku, tapi pada yang kedua kau tak mengeluh dan langsung saja lari ke bukit ambil daun. Karena kamu salah cara berpikirmu. Salah pandangan ilmu dan cintamu kepada segala sesuatu. Kamu salah peradaban. Kamu pikir daun bisa menyembuhkan. Itu tergantung mau-Ku. Aku menyembuhkanmu bisa pakai daun, air putih, batu, lewat Gaza, Tursina, Jombang, atau mana pun semau-mau-Ku.... Berapa lama sebuah anugerah Kuberikan, itu rahasia-Ku, bisa sesaat, sebulan, setahun, terserah Aku."

"Datanglah ke dokter, minta obat, sebagaimana ratusan juta orang telah melakukannya. Datanglah ke kiai, bawa air putih. Atau datanglah ke mana pun kepada siapa pun. Asalkan kau tak posisikan mereka semua pada maqam-Ku. Engkau berlaku musyrik atau tidak, terletak tidak pada pil dan dokternya, tongkat dan Musa, air dan kiai, atau batu dan siapa pun yang kutitipi batu sejenak. Letak syirik ialah pada pola pandangmu, pada cara berpikirmu. Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai, tapi hormatilah mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku...."

Tiba-tiba aku dibentak oleh sebuah suara: "Ngurusi Ponari aja nggak becus! Mau sok-sok berlagak mengurusi NKRI!" Terperangah aku. Terpaksa kupotong di sini tulisanku ini, sebab aslinya panjang sekali. Kucari siapa berani-berani membentakku. Tak ada siapa-siapa. Tapi malam di Kendari menjelang aku tidur kelelahan usai bersalaman dengan ribuan undangan pengantin anakku, bentakan itu datang lagi: "He! Perhatikan itu para ahli kubur dari Jombang!" Ahli kubur? Aku tak ngerti.

"Kemarin pandangan-pandangan dan anggapan-anggapan dalam hidupmu dikubur habis oleh mutilasi-mutilasi dari tangan seorang yang tersisih secara sosial, yang menderita secara kejiwaan, yang terasing secara politik dan sejarah. Sekarang kalian sedang dikubur oleh sebongkah batu yang nenek itu menyebutnya Watu Gludug, yang dititipkan beberapa waktu kepada anak SLB yang kesepian dan menderita tatkala dipindahkan ke SD. Pelajarilah hari-hari besok dengan meluangkan waktu memperhatikan siapa saja dari tempat itu yang tingkat ketersisihan dan keteraniayaannya lebih dahsyat...." Mendadak ada suara lain yang membungkam suara itu: "Husysy! Shut up!"

Opini Koran Tempo, 21 Februari 2009

Kamis, Februari 19, 2009

Muharram

‘Kita sudah sepakat dengan pihak keluarga suamimu kalian menikah bulan depan’
‘Tapi pakde, kami mau menikah sekarang. Tolong pakde yang sampaikan ini ke papa’
‘Ini bulan syuro’
‘Dalam Islam, tidak ada ketentuan ttg hal ini. Kalau selama ini ada kepercayaan aneh2, itu tidak ada dasarnya’
‘Tapi papamu dan mbah tidak setuju, takut nanti kenapa2’
‘Enggak pakde, kita yang harus buktikan kepada orang-orang kalau ini tidak apa apa,kita buktikan bahwa selama ini mereka mempercayai sesuatu yang salah’
‘Ya sudah, terserah kamu’

------
‘Halo…’
‘Adikmu kecelakaan ketika akan berangkat Liqo’, sekarang di puskesmas daerah A’
‘Kondisinya?’
‘Belum tahu, ini baru mau kesana’
------
‘Halo…’
‘Adikmu sudah berpulang, kata saksinya td langsung meninggal di tempat kejadian’
‘apaaaaaa??’

Aku kehilangan ragamu, tepat di hari ke-10 setelah hari pernikahanmu. Kumenangis, tergugu, tanpa bisa mataku kuajak kompromi. Seandainya aku sempat mengingatkanmu, akankah semua menjadi lain? Niatmu baik, lurus, saking lurusnya sampai menjadi kaku. Engkau tidak memperdulikan kesepakatan yang sudah dibuat oleh orang tua kita dengan orang tua suamimu. Engkau tidak hiraukan cinta mbah, orang tua, yang sangat menghawatirkanmu. Terlepas dari kepercayaan kebanyakan orang itu benar atau salah, namun kebenaran mutlak itu hanya milik-Nya, kita tidak berhak untuk mengklaim bahwa pendapat kita dengan ilmu kita yang seadanya, dengan keberadaan kita yang mgkn hanya sebesar debu per sejuta di mata-Nya, masih beranikah kita mengakui kitalah yang terbenar?
Engkau abaikan kekhawatiran mereka, sehingga dalam keterpaksaan mereka berkata ‘terserah kamu’. Aku takut engkau tidak mendapatkan doa yang tulus dari mereka. Aku takut mereka ‘gereget’ sehingga tanpa sengaja menyumpahimu.

Dik, aku masih gelisah. Aku masih takut sewaktu engkau mengatakan ‘kita yang harus buktikan kepada orang-orang kalau ini tidak apa-apa, kita buktikan bahwa selama ini mereka mempercayai sesuatu yang salah’, apakah engkau telah takabur?

-Doa & cinta kami selalu untukmu-

(catatan lamakoe, 2006)

Minggu, Januari 04, 2009

Istiqomah

Salah seorang teman bercerita kalau dia diberi wejangan oleh ayahnya tentang perjuangan memperjuangkan jodoh, ketika dia sempat mengeluhkan ttg hal ini.
Beliau mengatakan bahwa perjuangan temanku yg relatif juga berliku2 (seperti halnya diriku he2) itu belum ada apa2nya jika dibandingkan dg perjuangan sang ayah untuk menikahi sang ibu yang dicintainya dan alhamdulillah dapat berlangsung bahagia hingga sekarang.
Sang ayah bercerita, sang ibu menerima pinangannya setelah 3 kali menolak. Namun sang ayah tetap yakin dan terus berjuang meskipun telah ditolak sekali dan bahkan kedua kali. Perjuangan belum berhenti meski lamaran telah diterima. Keluarga besar sang ibu tidak ada yg merestui hubungan itu. Hingga akhirnya mereka menikah dengan wali hakim. Bahkan ancaman yg diterima dari keluarga sang ibu, jikalau nanti terlahir anak, maka sang anak tidak diijinkan untuk menginjakkan kaki dirumah keluarga sang ibu (temanku bercerita sambil tertawa, karena anak yg dilarang untuk menginjakkan kaki drumah keluarga sang ibu itu ternyata adalah dirinya, satu2nya karena dia adalah anak tunggal).
Kebencian itu berlangsung beberapa waktu.

Namun, saat ini pihak keluarga sang ibu sudah mengeluarkan pernyataan berbalik “Ibumu beruntung sekali memiliki suami seperti ayahmu”.
Subhanallah.

Dan kali ini aku mendapat hikmah dari perintah ISTIQOMAH. Sang ayah berjuang atas nama cinta yang diyakini adalah cinta yang bersumber dari-Nya, dengan penuh keyakinan dan tidak takut tantangan bahkan ketika dihadapkan dengan kegagalan di depan mata. Terus berjuaanngggggg!

Thx for SA, for sharing me this story at our 1st meet. Untuk saling menguatkan he2…Aku yakin, siapapun yg mengenalmu pati akan menyesal jika ‘melarangmu’ menginjakkan kaki dirumahnyaJ
Wish u all happiness with ur ‘finally u’ve found’ soulmate (wish he’s the one 4 u)!


Jogja, 31 Des 08 - Waroeng steak setelah maghrib

Sabtu, November 08, 2008

Thanks to Preman

Rasulullah saw. Bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaknya dengan hatinya. Dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Ketika mengikuti salah satu sesi ESQ Training dan diingatkan lagi pada sabda Nabi di atas, entah kenapa memoriku langsung melayang pada kejadian yg kualami pd Februari 2006. Rekaman kejadiannya masih sangat jelas. Pagi itu aku berada didalam bis antarkota ukuran tanggung dari terminal Rajabasa Bandarlampung menuju ke Bandarjaya Lampung Tengah, untuk menghadiri akad nikah adik sepupuku (almarhumah). Aku bersama kakak, bulek dan ponakan yang semuanya perempuan. Masih di terminal, ada bbrp penumpang yang dinaikkan oleh calo, dengan tujuan ke daerah transmigrasi yang lbh jauh dari tujuanku, sepertinya mereka penumpang transitan dari Jawa dengan penampilan 'tidak tahu medan' sehingga selama ini menjadi sasaran empuk preman2. Setelah bis berjalan 5 menit, satu persatu ada 'pria2 (baca: preman2) yang naik hingga ada sekitar 7 atau 10 orang, aku tidak pasti, yang pasti bis menjadi penuh sekali. Pria2 itu mulai mengerubungi dan 'meminta' macam2 kepada penumpang2 itu. Mereka memaksa. Ponakan yg duduk disebelahku membisikiku, mereka mengancam dengan pisau. Aku langsung menginstruksikan pada ponakan utk pura2 tidak melihat. Aku deg2an, takut sekali saat itu. Aku tahu itu pembajakan, kriminal. Semua penumpang lain terdiam. Sopir diam. Kondektur diam. Semua memilih pura2 tidak tahu, sepertiku. Itu hanya berlangsung sekitar 15 menit, namun rasanya lamaaaa sekali. Setelah mereka turun, terdengar banyak tarikan nafas lega. Pertanyaan empati dan simpati langsung tertuju pada korban2, diakhiri dg kalimat klise andalan, 'Alhamdulillah masih selamat, tidak terluka', meskipun harta yang mereka bawa raib (sepertinya mereka juga tidak memiliki rekening bank sbg alternatif utk menyimpan uangnya, sehingga semua dibawa dalam bentuk cash).
Aku menyarankan utk lapor ke polisi, namun kata sopir & penumpang lain itu akan percuma, ngabisin waktu, itu sering sekali terjadi dan dilaporkan namun besoknya masih terjadi lagi, walaupun sebenarnya pelakunya ya itu2 saja. Pahit. Dalam hati, aku bertekad utk melakukan sesuatu utk hal ini, aku mo kirim sms pengaduan ke Kapolda atau surat pembaca setelah itu. Tapi ternyata aku lupa atau sengaja melupakan kejadian itu, entahlah.

Dan di training ESQ ini, tiba2 aku tersadar betapa naifnya aku selama ini. Giblik. Gimana bisa2nya selama ini aku merasa beriman, yach walopun cuma merasa sedikit lbh beriman dari 'preman2' itu. Aku juga yakin penumpang2 lain yang ada di dalam bis jg merasa telah beriman. Hampir semua bapak2 & ibu2 yang ada di situ, aku lihat menunjukkan beriman kuat Islam. Namun dengan kejadian hari itu, aku semakin sadar kalau imanku masih sangat jauh dari yang semestinya.
Preman2 itu menyadarkanku. Ternyata aku masih 'takut' kepada preman2 itu yg notabene sama2 mahluk-Nya. Aku takut mereka akan beralih mengambil milikku, aku takut dilukai, aku takut mati. Jadi aku memilih diam, kami semua terdiam melihat kemungkaran yg terjadi dekat sekali bahkan di depan mata kami sendiri. Boro2 memilih menggunakan tangan, menggunakan lidah kami utk mencegah kemungkaran terjadi saja kami takut. Kami hanya berteriak teriak di dalam hati. Ternyata, imanku hanya sebatas itu.

ESQ Training Bandar Lampung 2008

Catatan lamakoe…mba Is (2)

Masih inget, aku pernah cerita ttg mba Is? Dia berbicara ttg surga waktu itu. (Foto ini diambil akhir tahun 2007 lalu, dia masih tetap semangat menyulam TAPIS).
Jauh sebelum kami ngobrol ttg surga, lewat dia, 17 th lalu, aku tersadar ttg Kebesaran kuasa Allah yang tak tertandingi, Dia-lah yang Maha berencana dan Maha Memiliki Kuasa atas segala2nya.

Pertama kali berkenalan dengannya, di rumah orang tuaku. Aku masih 12 tahun, baru masuk SMP saat itu. Tubuhnya tidak sempurna, tangan dan kaki. Kedua tangan terlahir tanpa telapak tangan, satu sesiku, yg satu sepergelangan tangan. Begitupun kakinya, yang satu hanya selutut.
Saat itu aku berfikir, ‘apa yang dapat dilakukan dengan kondisi seperti itu? Jika jari2 tangan saja tidak punya, bagaimana dia melakukan sesuatu?’. Pertanyaan itu langsung terjawab ketika melihatnya belajar menyulam kain tenun tapis (tenun tradisional propinsi Lampung). Dia mampu memegang jarum, benang dan mampu menyulamnya. Aku cm terbengong2. Coba bayangkan gimana tanpa jari tangan bisa menyulam? Bagaimana memegang jarum yang sekecil itu? Bagaimana memasukkan benangnya? Dan akhirnya akupun ikut belajar. Aku malu.

Dan satu saat, aku silaturahmi ke rumahnya. Dia menyajikan teh panas, yang ternyata dia sendiri yg membuat dg sebelumnya merebus sendiri airnya. Dia juga yang menyapu rumahnya. Dia melakukan banyak hal sendiri, yang tidak terbayangkan olehku dapat dilakukannya sendiri.

Lagi2, dan semakin menyadarkanku kalau Allah memiliki segala macam rencana dan kuasa yang tak terbatas, yang tak terjangkau oleh akalku. Dia menciptakan keterbatasan, sekaligus memberikan jalan dan segala sesuatu ‘yang serba mungkin’ utknya, untuk kita semua.

Sabtu, Oktober 18, 2008

Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma

SUKSES film ”Laskar Pelangi” dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah satu penerbit di bawah Mizan Publishing.

Kalau boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai orang,” kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing.

”Kami juga senang karena—istilah ’ge-er’-nya teman-teman (di Mizan)—film ini Mizan sekali. Dalam arti, ada unsur agamanya, tetapi menekankan pada akhlak, pendidikan yang tidak mengukur anak-anak dari nilai akademis seperti dikatakan Pak Harfan, kepala sekolah di film itu, concern pada kemiskinan, menghibur tetapi berkualitas,” tambah Ketua Yayasan Lazuardi Hayati yang mengelola sekolah Lazuardi di Cinere dan Sawangan (Depok), Cilandak, Jakarta Barat, Lampung, dan Solo itu.

Menurut Mira Lesmana yang bersama Mizan Publishing memproduksi film dengan sutradara Riri Riza ini, selama dua minggu pertama Laskar Pelangi sudah menyedot 1,5 juta penonton. Bukunya sendiri, menurut Haidar Bagir, sudah terjual 500.000-an kopi, sementara karangan Andrea Hirata yang lain, Sang Pemimpi dan Edensor, masing-masing terjual 300.000-an kopi, dan yang keempat, Maryamah Karpov, segera terbit. Keberhasilan Laskar Pelangi membuat Mizan Publishing mantap melangkahkan kaki masuk ke industri film dengan memproduksi Sang Pemimpi.

Buku bagus dan keberuntungan

”Menurut saya, keberhasilan buku ini adalah gabungan antara buku bagus, waktunya pas, dan juga keberuntungan,” jelas Haidar.

Bagaimana cerita penerbitan Laskar Pelangi? Buku ini dikirim ke Bentang di Yogya oleh teman Andrea Hirata yang karyawan Telkom. Buku itu sempat beberapa hari tidak dibaca karena pikiran karyawan Telkom tidak biasa menulis buku. Ternyata isinya sangat menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi.

Kami tahu buku ini bagus dan akan laku, tetapi tidak tahu bakal selaku ini. Lalu Andrea Hirata bertemu saya di Bandung, membicarakan kemungkinan memfilmkan cerita itu. Terus terang waktu itu saya tidak terlalu optimis. Buku sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan Sinema (kemudian menjadi Mizan Production) baru berpengalaman membuat acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?

Kemudian buku itu diangkat dalam acara Kick Andy (di Metro TV) dan meledak. Sebelumnya, buku-buku kami juga diangkat dalam acara itu, tetapi tidak meledak seperti Laskar Pelangi.

Bagaimana menjadi film? Setelah buku meledak, kira-kira setahun lalu, mulai banyak sutradara menanyakan apakah akan difilmkan. Kami jadi optimis. Kami kontak Andrea dan dengan cepat memutuskan menyerahkan kepada Mira Lesmana dan Riri Riza karena mereka sukses menggarap Petualangan Sherina. Kami merasa cerita ini sedikit seperti film itu, ada menghiburnya, tetapi tidak kehilangan keindahan. Mizan tidak sendirian sebagai investor, saya mengajak Bachtiar Rachman, teman saya yang membikin sekolah Lazuardi Cordova di Jakarta Barat.

Keberuntungan Laskar Pelangi? Keberuntungannya karena diangkat dengan sangat baik oleh Kick Andy, besok paginya sudah ada beberapa orang dari toko buku antre di depan gudang kami. Tetapi, tetap yang paling utama memang bukunya bagus.

Agama cinta

Perbincangan dengan Haidar berlangsung di toko buku sekaligus kantor Mizan Publishing di Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Toko buku itu, demikian Haidar, lebih dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi berbagai komunitas, seperti musik, sastra, film, dan para ibu muda.

Tahun 1982, saat masih kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, bersama dua temannya Haidar mendirikan Mizan. Setahun kemudian mereka mulai menerbitkan buku. Kini, setelah seperempat abad, Mizan Publishing memiliki 12 unit usaha dan membagi saham untuk karyawan senior dan melalui koperasi.

Bila awalnya Mizan menerbitkan buku tentang agama, sejak tahun 1990 jenis buku yang diterbitkan diperluas. Buku agama saat ini 20 persen dari sekitar 1.000 judul per tahun. ”Mau cari buku resep masakan ada, buku tentang dekorasi, self help, sampai pendidikan,” tutur penerima penghargaan Best CEO 2008 versi majalah Swa ini.

Sikap dan pandangan hidup Haidar dalam mengembangkan pemikiran yang mengutamakan modernasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta pembangunan peradaban yang berkeadilan dan berorientasi sosial di atas landasan spiritual yang positif amat mewarnai Mizan.

”Kami tidak tertarik menerbitkan buku yang berhubungan dengan pendekatan syariah karena biasanya pendekatan hukum menyebabkan eksklusivisme. Bukan hanya antara orang Islam dengan orang di luar Islam, tetapi juga internal Islam sendiri. Atau buku yang memojokkan kelompok lain dari sudut pandang keagamaan.

”Sebaliknya, kami menerbitkan buku dari semua sumber. Ekstremnya, ada bukunya orang Muslim, buku yang ditulis pastor, dan juga yang mungkin dianggap sekuler, seperti Agama Cinta yang dekat dengan advokasi tentang civil religion. Sebetulnya buku itu sangat kontroversial karena mau mengatakan, agama itu sebetulnya cinta,” papar penerima tiga beasiswa Fulbright.

Kini dia sedang menyelesaikan dua buku berjudul Islam Agama Cinta; satu ditulis populer dan yang lain secara akademis dengan dilengkapi riset.

”Buku ini bukan hanya untuk orang luar, tetapi untuk orang Muslim sendiri. Ahli fenomenologi agama biasanya membagi agama ke dalam agama berorientasi nomos, hukum, yang dalam Islam disebut syariah; dan berorientasi eros, cinta.

”Biasanya fenomenologi tradisional memasukkan Islam ke dalam agama berorientasi nomos, hukum. Tetapi, melihat fenomenologi yang lebih belakangan sebetulnya kita harus melihat Islam sebagai agama yang tidak kurang-kurang berorientasi cinta.

”Saya ingin menunjukkan kepada kaum muslimin sendiri, di atas semuanya prinsip Islam adalah cinta. Hanya itu yang bisa membuat Islam terbuka karena pendekatannya kepada orang lain adalah kebaikan hati, berpikir positif, prasangka baik.

”Sementara, menurut Haidar banyak kaum muslimin yang menekankan keberagamaan pada syariah.

”Saya tidak mengatakan syariah tidak penting, tetapi harus mengacu pada prinsip Islam agama cinta. Kalau melihat agama hanya bersifat syariah, akan membuat orang menjadi eksklusif. Cinta itu merangkul semua dan membuat prasangka baik: semua orang sama baiknya, sama benarnya, sama salahnya dengan kita,” jelas Haidar.

Doktor filsafat Islam dari Universitas Indonesia ini juga membahas hal yang untuk beberapa pihak masih kontroversial. Misalnya, kekerasan dan perang.

”Islam agak khas dalam membuka peluang penggunaan kekerasan dan perang. Dalam buku ini saya tunjukkan betul, di atas semua itu prinsipnya tetap cinta. Perang dalam Islam hanya boleh dilakukan untuk melawan penindasan dan sifatnya defensif. Pada saat penindas siap duduk di meja perundingan, perang harus dihentikan.

”Dengan segala keterbatasan ilmu saya dalam hal ini, saya ingin menunjukkan kita harus melakukan paradigm shift, perubahan paradigma. Melihat Islam dari agama berorientasi hukum menjadi agama berorientasi cinta di mana hukum menjadi sarana kita memastikan setiap orang mendapatkan kasih sayang,” jelas Haidar.

Lalu juga tentang neraka. ”Prinsip kasih sayang itulah yang menjadi prinsip neraka. Neraka pada dasarnya bukan Tuhan menghukum manusia, tetapi apa yang dari Tuhan dapat dipersepsi berbeda oleh manusia,” tambah dia.

Haidar mencontohkan segelas air dingin yang menyegarkan untuk orang sehat dapat menyiksa untuk orang sakit.

”Itu saya coba ungkapkan untuk menunjukkan Tuhan tidak membuat sesuatu yang pada dirinya sendiri menyiksa, tetapi karena manusia tidak hidup dengan cara yang menyebabkan dia mendapat kenikmatan. Ini memang kontroversial, tetapi saya secara konsisten ingin membuktikan hal-hal tersebut.
-----------------------------
Kebahagiaan adalah MEMBERI
BILA ditanyakan kepada Haidar Bagir apa arti bahagia, dia akan menjawab memberi sebanyak-banyaknya.Ayah tiga putra dan satu putri ini mengaku terobsesi pada hadis Nabi Muhammad yang menyebutkan, ibadah untuk Allah adalah menyenangkan orang-orang yang hancur hatinya dengan memberi sebanyak-banyaknya kepada yang membutuhkan.”Yang hancur hatinya bukan hanya orang miskin. Sudah pasti orang yang miskin hancur hatinya, tetapi zaman sekarang banyak juga orang yang depresi dan butuh ditemani. Orang kaya pun kadang-kadang bisa hancur hatinya, depresi,” kata Ketua Yayasan Manusia Indonesia (Yasmin) yang bergerak di bidang pemberdayaan pendidikan kaum duafa ini.Dengan memberi, kata Haidar, orang akan menerima jauh lebih banyak sehingga dia menyebut memberi adalah tindakan paling mementingkan diri sendiri.Sikap dan keyakinan kebahagiaan adalah memberi sebanyak-banyaknya itu dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pendidikan di Lazuardi, mulai dari pra-TK hingga SMA.Karena itu, tujuan Lazuardi bukan mendidik siswa mencapai nilai akademis setinggi-tingginya, tetapi anak menguasai kemampuan dasar akademis, menumbuhkan rasa cinta pada ilmu, terampil mengembangkan ilmunya, serta punya kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan keprihatinan sosial tinggi. ”Itulah sumber kebahagiaan tertinggi,” kata Haidar.”Kebahagiaan adalah latihan, dia ada di ambang pintu kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengucapkan selamat datang, tetapi kita sering tidak sadar dan tidak terampil untuk menyadari. Orang harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan bersyukur.”Kita sekarang ikut tren yang di tempat asalnya tidak dipakai lagi, yaitu kalau sukses dan punya uang banyak kita akan bahagia. Padahal, kebahagiaan terbesar adalah memberi,” tambah Haidar.Dengan keyakinan itu, Haidar meyakini yang pertama-tama harus dibangun adalah akhlak, baik pribadi maupun sosial.Alasan dia, akidah seseorang hanya akan kuat bila akhlaknya baik. ”Bagi saya akidah, ibadah, itu ujungnya akhlak pribadi dan sosial, hubungan sesama manusia,” kata Haidar.Akhlak yang pribadi, seperti tidak dengki dan tidak pamer dalam kebaikan, menurut Haidar, seharusnya menjadi inti pendidikan. Tetapi, dia mengakui, tidak mudah menjelaskan kepada orangtua murid yang kadang-kadang masih mengukur dari nilai akademis.”Pelan-pelan kami yakinkan yang penting mengajarkan anak berbahagia, yaitu kalau akhlaknya baik dan suka memberi dan menolong orang. Ini saya belajar dari diri sendiri. Kadang saya merasa kehilangan makna hidup sehingga saya secara sengaja mencoba memberi makna pada hidup saya,” papar Haidar.Itu dia lakukan dengan, misalnya, mengajak anak-anaknya pergi bersama untuk menguatkan hubungan ayah-anak.”Saya bilang kepada istri, bukan karena saya baik, tetapi saya menggunakan anak-anak untuk memberi kebahagiaan, memberi makna, pada hidup saya,” tambah Haidar. ”Kalau tidak secara sengaja memberi makna pada hidup, repot juga zaman sekarang. Kesenangan itu betul-betul hanya singgah. Kita mengejar sesuatu, begitu dapat, lalu hilang.” (NMP/BRE)
”Sumber: Kompas, Minggu, 12 Oktober 2008 "
--Ninuk Mardiana Pambudy & Bre Redana--

Sabtu, September 13, 2008

Catatan lamakoe...

Pemuda itu berkata padaku,"Siapa bilang Tuhan itu adil? Buktinya aku dan banyak orang yang lain ada di sini. Lihat! anak-anak kecil itu, mereka, bandingkan dengan mba, kehidupan mba, dan kehidupan orang-orang yang segolongan dengan mba. Mba bisa makan setiap hari, mba bisa tidur dengan nyenyak di malam hari di atas kasur empuk dan aman di dalam rumah. Mba juga bisa sekolah, mba belajar mengaji, mba bisa jalan-jalan ke mal. Sementara kami di sini? Kami tidak pernah diberi kesempatan memilih, kami tidak ditanya ketika akan lahir ke dunia. Kalau kami ditanya, pasti kami tidak akan pernah mau untuk dilahirkan hanya untuk hidup di sini, dan dari orang tua yang entah kami tidak pernah tahu siapa"
---------------------------

Mba Is namanya, aku berteman dengannya sejak aku kelas 1 SMP, 17 tahun yang lalu. Usianya menjelang 40 tahun, sejak lahir tubuhnya cacat fisik, tangan kiri hanya sebatas siku, tangan kanan sebatas pergelangan tangan, tanpa jari yang sempurna, kaki kanan juga sebatas lutut, dan kaki kiri sebatas pergelangan kaki.

Suatu saat, ketika kami sedang bcanda ria......
"Jika aku meninggal nanti, aku harus masuk surga", dia berkata sambil tertawa
"Kalo tidak mba?", tanyaku nakal
"Oh, kalau enggak aku akan protes. Bagaimana mungkin aku yang terlahir seperti ini, mosok di akhirat masih harus sengsara lagi. Apa kamu gak tahu gimana perasaanku selama ini. Aku sudah rela sejak kecil menjadi bahan tertawaan anak-anak kecil. Apa bisa kamu bayangin, yang ngetawain anak kecil loh. Aku selalu pengen nangis sebenarnya. Tapi aku cuma bisa bersabar. Seumur hidupku aku sabar. Kurang sabar apa lagi aku? Pokoknya awas aja, kalo aku sampe gak masuk surga nanti" lanjutnya sambil tertawa.
Aku menelan ludah. Apakah dia betul tertawa? ...namun aku ikut tertawa kecut.

Aku tidak pernah berani untuk bertanya apakah yang dia berani untuk impikan selain surga? Sejak kecil tidak sekolah, jadi mana mungkin dia memimpikan punya karir bagus dalam pekerjaannya atau memiliki satus sosial yang tinggi di masyarakat. Apakah dia juga pernah jatuh cinta sepertiku? Apakah dia juga pernah bermimpi ingin menikah dengan laki-laki itu suatu saat nanti? Apakah dia juga berani bermimpi melahirkan anak dari rahimnya? Ya Allah, dengan kehidupan seperti itu sejak kecil, apa sebenarnya maksud-Mu untuknya? peran apa yang sebenarnya harus dia mainkan di dunia ini? Atau Engkau melakukan keteledoran ketika menciptakan dia? Lalu apa yang harus dia lakukan untuk kehidupan di sekitarnya saat ini? aku sungguh tidak mampu menebak. Aku hanya tahu keberadaannya adalah ujian bagi kami orang-orang di sekitarnya. Untuk senantiasa melihat kuasa-Mu. Untuk senantiasa merasa malu jika kami mengeluh atas segala kebaikan dan kenikmatan yang Engkau berikan pada kami selama ini. Tapi untuknya? sekali lagi aku belum bisa menebak.

-aku yg malu padamu-


Selasa, September 09, 2008

Sadarku

Aku terlahir dari kedua orang tuaku, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku berada di dalam keluarga, lingkungan, dan tempat tinggalku, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku memiliki dan bertemu dengan teman-teman dari segala arah mata angin, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku mendapat karunia-Mu untuk segala indra dalam tubuh fisik dan rohani yang Engkau percayakan padaku, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku tidak pernah dapat memilih aku ingin dilahirkan oleh siapa, dimana, di negara mana, bersuku apa dan beragama apa
Aku berada di titik ini, saat ini, adalah tidak di luar rencana-Mu

Ya Allah...
Ampuniku, jika aku pernah mengeluh dan membandingkan dengan milik orang lain atas segala ketetapan-Mu atasku
Ampuniku, jika aku pernah mengeluhkan segala tantangan yang Engkau percayakan untukku
Ampuniku, jika aku belum mampu mensyukuri segala kesulitan dan ujian yang Engkau berikan dalam setiap detik hidupku
Ampuniku, jika aku belum mampu memahami dan mengikuti seluruh petunjuk yang telah Engkau berikan

Ya Allah...
Aku hanyalah satu dari sekian mahluk ciptaan-Mu, yang senantiasa tidak memiliki kuasa apapun untuk mengubah ketetapan-Mu
Aku hanyalah satu dari sekian mahluk ciptaan-Mu, yang harus memainkan peranan sesuai dengan skenario-Mu di bumi ini
Aku hanyalah 'pemain' yang hanya Engkau beri kesempatan satu episode dalam kehidupan ini
Aku bukan siapa-siapa...tanpa-Mu

Ya Allah...
Bisikilah hatiku selalu...
Agar aku dapat berlaku seperti yang Engkau kehendaki...

Hanya untuk mendekati jalan menuju-Mu...

Lampung, Ramadhan 1429H
---------------------------

Surga untuknya

"Mba, apa yang akan masuk surga cuma orang-orang yang bisa mengaji?", tanyanya suatu saat.
"Emmm, mestinya enggak", jawabku sekenanya, "Emang kenapa?"
"Kalau emang surga cuma untuk yang bisa mengaji, sekali lagi Tuhan gak adil. Enak dong, anak-anak yang terlahir di lingkungan pesantren, atau keluarga kiai minimal. Dari lahir udah punya bakat masuk surga. Terus mereka menikah dengan keluarga pesantren yang lain juga. Berarti surga udah dikapling untuk mereka saja? Lah kalau kayak kita ini? Boro-boro belajar ngaji, nyari makan aja belum tentu dapet. Orang tua aja gak punya, sodara gak punya. Gak ada yang tanggung jawab ngajarin kami ngaji. Makanya kebanyakan dari kami ya jadi gelandangan atau preman seterusnya. Itu namanya dis...dis...nasi apa mba?"
"Diskriminasi maksud kamu?"
"Iya, pokoke gak adil kalo gitu"....kalimat ini mengaung-ngaung di telingaku

Aku teguk teh botolku dengan pelan. ……Apakah mungkin Tuhan Sang Maha segala-galanya, yang memiliki kuasa tak terbatas dan tak terjangkau oleh akal manusia, yang memiliki segala sifat kebaikan 99 Asmaul Husna, mungkinkah dapat melakukan kekeliruan atau ketidakadilan atau diskriminasi macam itu? Rasanya tidak. Bukan, bukan rasanya, tapi pasti tidak. Namun bagaimana penjelasannya, karena aku juga tidak tahu.

Surga...surga...aku sungguh tidak tahu harus menjelaskan seperti apa ttg hal ini pada dia, karena apa yang dikatakan olehnya memang logis. Logika yang telah sangat memasyarakat. Manusia yang baik-baik dengan ciri-ciri rajin beribadah logikanya akan masuk surga, sedangkan yang sebaliknya preman-preman, penjahat yang banyak ada di komunitasnya akan masuk neraka –beberapa malah ada yang masuk penjara lebih dulu- karena tidak pernah beribadah. Namun masalahnya, bagaimana jika mereka bukannya tidak mau beribadah, tapi tidak pernah tahu caranya beribadah, sepertinya.

But at last, aku menjawab pertanyaannya bahwa aku dan kita semua harus percaya pada-Mu, bahwa Engkau memiliki mekanisme perhitungan sendiri, yang tidak sama dengan perhitungan matematika kami di dunia. Bahwa Engkaulah Sang Maha Tahu atas segala-galanya, Engkaulah Sang Maha Memiliki rencana atas setiap detik kehidupan kami. Yang harus kami lakukan hanyalah berusaha melakukan segala sesuatu dengan Bismillah (orientasi hanyalah pada-Mu), belajar tanpa henti, berbuat sebaik-baiknya, tidak menyakiti orang lain, agar kami dapat terus membaca --membaca petunjuk-Mu, membaca alam-Mu, membaca lingkungan sekitar, membaca kehidupan ciptaan-Mu--.

"Jadiiii...surga juga masih terbuka untuk kita kan mba?"
"InsyaAllah masih, kan nothing impossible buat Sang Maha Kuasa, tahu artinya gak? Artinya gak ada yg gak mungkin untuk Allah kalau Dia berkenan.
Kamu percaya gak kalopun seluruh manusia yang pinter2 di dunia saat ini dikumpulin jadi satu, aku yakin kalo itupun belum tentu mampu memahami seluruh maksud-Nya kepada kita di dunia ini, apalagi memahami yang di akhirat nanti, yang mengaku tahu bisa jadi juga cuma ‘merasa tahu’, tapi belum tentu mutlak bener juga kan? Kita berdoa aja semoga Allah memberi rahmat-Nya pada kita semua, karena aku pernah baca manusia yang masuk surga bukan karena ibadahnya namun karena rahmat-Nya"
“Maksudnya? Lah katanya manusia harus beribadah untuk masuk surga?”
“Katanya, karena ibadah manusia gak akan pernah cukup untuk membayar segala kenikmatan kita di dunia. Nikmat penglihatan, pendengaran, merasakan yang enak dan lezat, sampai nikmat mencintai dan dicintai”
“Kok mba tahu, katanya mba juga gak jago mengaji, mba juga bukan manusia yang taat beribadah, keluarga mba juga biasa-biasa aja”
“Lah kamu juga, udah tahu aku gak tahu kenapa tadi nanyanya ama aku? hayoo kenapa?”
“Ya mau nanya sapa lagi mba, mau nanya orang-orang di masjid itu kayaknya terlalu tinggi, takut jawabannya gak enak, kalo nanya sama yang di sini ya sama aja”
“Ya udah kalo gitu percaya aja ama jawabanku he3x. Yang penting kita berusaha, dan sebisa mungkin berubah lebih baik setiap harinya, sekecil apapun perubahan itu, pasti Allah ngeliat usaha kita”
“Tapi mba janji jangan sombong ama kita ya kalo udah kaya nanti”
“Oke. Tapi kamu juga janji gak akan nyopet dompet orang lain lagi, cukup dompetku”
“Yeee itu dah jaman jebot masih diinget juga! katanya udah ikhlas kok masih diinget-inget terus? Hahaha”

-bahagiaku ada pada bahagiamu-
-----------------------------------

Senin, Juni 23, 2008

Doaku

Aku mohon kekuatan,
Dan Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Aku mohon kebijaksanaan,
Dan Allah memberiku masalah untuk diselesaikan
Aku mohon kecukupan,
Dan Allah memberiku otak dan tenaga untuk bekerja
Aku mohon keberanian,
Dan Allah memberiku bahaya/resiko untuk diatasi
Aku mohon kasih sayang,
Dan Allah memberiku orang yang dalam kesulitan untuk ditolong
Aku mohon kemurahan,
Dan Allah memberiku kesempatan-kesempatan
Aku tidak menerima apa-apa dari yang kuinginkan,
Aku menerima segalanya dari yang kubutuhkan
Do’a ku telah diijabah

"I asked for strength, And Allah gave me difficulties to make me strong.
I asked for wisdom, And Allah gave me problems to solve
I asked for prosperity, And Allah gave me brain and strength to work
I asked for courage, And Allah gave me danger to overcome
I asked for love , And Allah gave me troubled people to help
I asked for favour, And Allah gave me opportunities
I received nothing I wanted, I received everything I needed
My Prayer has been answered "

(Al Muslim).

Senin, Juni 09, 2008

Gambar Orang Beribadah...(Humor Ala Gus Mus)

Ketika si Nanang (bukan nama sebenarnya) masih duduk di bangku SD, ia mendapat tugas kliping dari guru PMP-nya (PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Sekarang menjadi pelajaran Kewarganegaraan).

“Coba kalian kliping gambar atau foto orang yang sedang menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing. Kumpulkan minggu depannya”, perintah Ibu Guru kepada Nanang dan kawan-kawannya. Seminggu berlalu, rupanya si Nanang lupa akan tugasnya. Hari itu, Ibu guru PMP pun menyuruh Nanang dan kawan-kawannya mengumpulkan tugas kliping. Si Nanang pun kelabakan. Segera ia mengambil pas foto dirinya dari tasnya, dan menempelkannya di selembar kertas dan memberikannya judul ”Tugas Kliping Gambar Orang Beribadah”.

Ibu guru PMP pun memeriksa tugas murid-muridnya. Ketika sampai di meja si Nanang, Ibu guru tersebut pun marah. “Apa maksudnya kamu menempel foto kamu sendiri di lembar tugas kliping ini?, tanya Ibu guru gusar. Nanang pun dengan tenang menjawab, ”Ini gambar orang beribadah Bu, ibadah puasa”, tandas si Nanang.
-----

Humor yang tampak 'biasa' tapi menyentil. Bahwa bu Gurupun tidak dapat menyalahkan Nanang even ketika difoto si Nanang tidak dalam kondisi puasa, karena yang dapat mengetahui kebenaran ibadah puasa itu adalah Nanang dan Allah Sang Maha Mengetahui. Bahwa esensi ibadah itu adalah tidak tampak dengan mata kita=manusia, karena niatnya terletak di dalam hati. Bahwa seringkali kita merasa dapat menilai ibadah kita sendiri dan juga ibadah orang lain. Bahwa sebenarnya hanya Allah yang mengetahui dan berhak menilai setiap niat ibadah yang kita lakukan:-)

DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK

(Mengutip dari Sang Guru di Gubuk maya A. Mustofa Bisri)

Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina

Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia

Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas

Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!
Ya Tuhan!

Selasa, Mei 20, 2008

The Spirit Carries On

by: Dream Theatre

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, "Life is too short,"
"The here and the now"
And "You're only given one shot"
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we've got?

If I die tomorrow
I'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I'd be allright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

[Victoria:]
"Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear"

[Nicholas:]
Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Victoria's real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I'm here
It's perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I'd be allright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on


Sama dengan mereka, segenap hati dan akalku sudah sepakat kalau ada kehidupan itu nantinya, dan itulah kehidupan yang abadi. Yang harus dilakukan dalam kehidupan skrg cuma menyiapkan diri sebaik-baiknya, berusaha mencintaiNya untuk mendapatkan cintaNya, entah surga atau neraka yang akan kudapat, biarlah itu menjadi urusanNya.

(posting lagu ini karena baru az baca postingan di blog tetangga)

Sabtu, Mei 10, 2008

di Pelabuhan

Pukul 8 malam di hari 24 April 2008, aku sampai di pelabuhan Bakauheni. Setiap kali sampai disini aku selalu menikmati pemandangan di luar bis yang sedang antri. Laut yang indah di waktu malam karena cahaya lampu2 pelabuhan seolah kontras dengan kerasnya hidup yang ditunjukkan oleh ’penghuni2’ pelabuhan ini. Pelabuhan yang tidak hanya diisi oleh kaum2 lelaki namun juga ibu2 yang menjajakan pop mie, air minum mineral dan kopi susu hangat satu persatu menyisir bis yang antri masuk ke kapal. Aku membayangkan mungkin salah satu dari ibu yang menjual pop mie ini memiliki 2 anak perempuan dan 1 laki-laki yang sekarang sedang menunggu di rumah. Mereka makan dengan lauk tempe goreng yang dibeli dari hasil keuntungan menjual pop mie yang masih harus dibagi dengan biaya untuk sekolah dan biaya kontrakan. Aku juga membayangkan kenapa si ibu harus sampai berjualan sampai malam2 di pelabuhan, jangan2 suaminya sudah meninggal, atau sedang sakit sehingga tidak bisa bekerja, atau jangan2 suaminya pergi meninggalkan dia dan anak2 untuk bersama wanita lain. Halah...aku malah mikir yang aneh2. Yang pasti, si ibu mencoba mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya, dengan cara yang baik memenuhi kebutuhan orang2 yang ’sedikit lapar’ dan ’ingin menghindari masuk angin’ dengan makan atau minum yang hangat2. Dan aku salah satu yang membutuhkannya.

Mengapa aku memilih 'menikmati' situasi ini, karena saat2 ini selalu mengingatkanku untuk selalu mengucap Alhamdulillah dan Istighfar dalam rangka syukurku atas segala apa yang Tuhan berikan, dan merefresh segenap semangat untuk berbuat lebih baik esok hari dan esoknya lagi!

Jumat, April 11, 2008

Bersyukur

"Dan milik-Nya apa yang di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah ibadah selama-lamanya. Maka mengapa kamu takutkan yang selain Allah?" -Q.S. 16 Surat An Nahl Ayat 52-

Aku adalah satu debu milik-Nya, kamu pun milik-Nya, which is kita semua akan kembali pulang nantinya, besok, lusa, minggu depan atau bertahun2 kedepan. Sehat atau sakit, menangis atau tertawa, fitrahku untuk tetap harus beribadah hanya kepada-Nya dalam setiap inchi jalanku. The road to Allah should be the only road in my life. No excuse.

Mengutip Cak Nur: "bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar". Idem...buatku bersyukur adalah memberdayakan apa yang telah diberi-Nya yaitu tubuh dengan segala bagiannya dan alam dengan segala isinya, dengan sebaik2nya, dan bisa membawa kebaikan bagi sebanyak-banyaknya manusia (dengan syarat: tidak zalim kepada diri sendiri, orang lain dan alam). So, sudah seharusnya aku takut kalau aku termasuk manusia yang tidak bersyukur atas segala dari-Nya...dalam setiap detik hidupku:)

Tapi...realitanya sampai detik ini aku masih sangat 'blm bersyukur'...masih blm mengoptimalkan diri!! masih suka banyak menunda 'sesuatu yg mampu kukerjakan'. Astaghfirullah..:)

Aku Lebih Baik Dari Dia

Oleh : KH. Jalaluddin Rakhmat

Suatu hari, Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, "Hai Musa, bila nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia." Nabi Musa as lalu pergi ke mana-mana; ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadat. Ia selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek dari Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik dari dirinya. Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, "Aku lebih baik dari dia."

Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus dari bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan. Nabi Musa berpikir, "Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia." Ia pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah SWT, Tuhan bertanya, "Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?" Nabi Musa menjawab, "Tuhanku, aku tidak menemukan seseorang pun yang aku lebih baik darinya." Tuhan lalu berfirman, "Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik darinya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian."

Kata ana khairun minhu atau "Aku lebih baik dari dia" pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Adam as tapi Iblis tidak mau. Ia beralasan, "Aku lebih baik dari dia. Kau ciptakan aku dari api dan Kau ciptakan dia dari tanah." Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah takabur karena nasab, takabur karena keturunan.

Menurut Al-Ghazali, di antara beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi takabur dan berfikir, "Aku lebih baik dari dia," adalah nasab. Iblis adalah tokoh takabur karena nasab yang paling awal. Kebanggaan atau kesombongan karena nasab ini pernah menjadi satu sistem dalam masyarakat feodal. Feodalisme adalah sistem kemasyarakatan yang membagi masyarakat berdasarkan keturunannya. Sebagian masyarakat disebut berdarah biru dan sebagian lagi berdarah merah.

Ada sebuah buku yang dengan secara terperinci mengkritik sebagian sayyid atau keturunan Rasulullah saw yang merasa bahwa mereka lebih utama dari orang yang bukan sayyid. Sebagian sayyid itu berpendapat bahwa jika ada orang bukan sayyid yang beramal saleh sebanyak-banyaknya, derajatnya akan tetap lebih rendah dari seorang sayyid yang beramal maksiat. Menurut penulis buku tersebut, seorang sayyid yang berpendapat seperti itu pastilah seorang sayyid yang ahmaq atau tolol. Dalam salah satu buku itu, ia memberikan contoh sayyid yang berpikiran seperti itu sebagai orang yang takabur karena nasabnya. Ternyata, penulis buku itu pun adalah seorang sayyid. Namanya Al-Sayyid Abdul Husain Asghai.#

Penulis itu mengingatkan saya kepada Imam Ali Zainal Abidin as. Ia pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Thawus Al-Yamani mendekatinya dan bertanya, "Wahai Imam, mengapa engkau harus beribadat seperti ini? Bukankah kakekmu Rasulullah saw dan ibumu Fathimah as?" Lalu Imam dengan marah menjawab, "Jangan sebut-sebut di hadapanku ibuku dan kakekku, karena Allah SWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepada-Nya, walaupun ia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan ke neraka siapa saja yang maksiat kepada-Nya walaupun ia adalah seorang sayyid dari bangsa Quraisy."

Berbangga sebagai keturunan Rasulullah saw saja adalah suatu perbuatan takabur, apalagi berbangga sebagai keturunan bukan Rasulullah saw. Orang yang berbangga karena keturunannya yang bukan Rasulullah saw adalah seperti orang miskin yang takabur. Hal itu bukan berarti orang kaya boleh takabur. Orang kaya yang takabur pun akan dimasukkan ke neraka.

Kehormatan dalam Islam tidak ditegakkan berdasarkan nasab. Tuhan berfirman, "Innâ akramakum ‘indallâhi atqâkum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa." (QS. Al-Hujrat 13 ) Pernah pada suatu hari, seseorang datang kepada Rasulullah saw dengan membanggakan nasabnya. Di kalangan masyarakat Arab waktu itu, kebanggaan suatu nasab didasarkan pada jumlah jasa yang dilakukan nasab itu. Karena itu, mereka sering menyebut-nyebut jasa orang tua mereka. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah saw hanya menjawab pendek, "Wa anta ‘âsyiruhum fin nâr. Dan engkau, keturunan yang kesepuluh, di neraka." Ia masuk neraka karena ketakaburannya.

Ketika berhadapan dengan orang yang takabur karena nasabnya, yang membanggakan kehebatan orang tuanya, Sayidina Ali berkata, "Ucapan kamu benar. Tapi alangkah jeleknya yang dilahirkan oleh orang tuamu."

Al-Ghazali membagi takabur kepada dua bagian. Pertama, takabur dalam urusan agama dan kedua, takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama dibagi lagi menjadi dua; takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Menurut Al-Ghazali, yang banyak takabur karena ilmu adalah para ilmuwan, filusuf, dan ulama. Apa tanda-tanda orang yang takabur karena ilmunya? Ia tidak mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bodoh darinya. Ia merasa dirinya paling pintar dan tidak memerlukan bantuan orang lain.

Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menceritakan kisah dua orang yang lulus bersamaan dari perguruan tinggi. Satu orang di antaranya luar biasa pintar dan lulus dengan nilai tertinggi sementara seorang yang lain lulus dengan nilai pas-pasan. Dua tahun kemudian, diselidiki nasib kedua orang itu. Orang yang pintar itu ternyata menganggur sementara orang yang tidak pintar telah menjadi manajer di sebuah perusahaan. Selidik punya selidik, ternyata orang pintar itu tidak tahan bekerja di satu tempat, karena dia tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Ia merasa dirinya pintar sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain.

Takabur yang kedua di dalam urusan agama adalah takabur karena amal. Jika seseorang banyak beramal, ia bisa menjadi sombong. Dalam sebuah hadis diriwayatkan seseorang yang datang ke majelis Nabi. Orang itu dipuji para sahabat karena kebagusan ibadatnya. Tapi Nabi mengatakan, "Aku melihat bekas tamparan setan di wajahnya." Nabi kemudian menyuruh sahabat membunuh orang itu. Orang itu merasa amal dirinya paling baik di antara orang lain. Di waktu lain, Rasulullah saw bersabda, "Jika ada seseorang yang berkata, ‘Manusia ini semuanya sudah rusak,’(dan ia merasa bahwa hanya dirinya yang tidak rusak) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia yang paling rusak."

Ada orang yang merasa amalnya sudah bagus sehingga dia merendahkan orang lain. Ada juga orang yang merasa dirinya amat saleh dan segera menganggap rendah orang lain yang tidak salat berjemaah di masjid seperti dirinya. Ia pun mengecam orang lain yang salatnya dijamak. Orang-orang seperti itu termasuk orang yang takabur karena amalnya.

Sayidina Ali mengajarkan kepada para pengikutnya, "Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih muda, berpikirlah dalam hatimu: Pasti dosanya lebih sedikit dari dosaku. Kalau kamu berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah dalam hatimu: Pasti amalnya lebih banyak dari amalku." Setiap orang pasti ada kelebihannya. Kita juga punya kelebihan, tetapi hal itu tidak menyebabkan kita menjadi lebih mulia daripada orang lain. Begitu kita merasa diri kita lebih mulia dari orang lain dan ingin diperlakukan sebagai orang mulia secara diskriminatif, kita sudah jatuh kepada takabur. Takaburnya bisa karena ilmu atau karena amal.

Takabur bagian kedua menurut Al-Ghazali adalah takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan dunia disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena nasab, seperti telah dijelaskan di atas. Kedua, karena harta kekayaan. Ketiga, karena kekuasaan. Keempat, karena kecantikan. Kelima, karena banyaknya anak buah dan pengikut. Penyakit yang terakhir ini biasanya diderita oleh para ulama.

Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun hanya sebesar biji sawi." Kita dapat mengukur hati kita, apakah terdapat sebutir takabur atau tidak, dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: Ketika Anda masuk ke dalam sebuah majelis dan melihat kawan Anda yang setara dengan Anda duduk di tempat yang lebih mulia, sementara Anda duduk di tempat yang lebih rendah, apakah ada perasaan berat dalam diri Anda? Ketika Anda akan memilih menantu dan memperhatikan keturunan calon menantu itu, lalu ternyata keturunannya tidak sebanding dengan Anda, apakah Anda merasa berat menerimanya? Apakah Anda merasa berat menerima nasihat dari orang yang lebih rendah daripada Anda? Apakah Anda merasa berat untuk memakai pakaian yang jelek ketika menghadiri pengajian? Jika Anda menjawab "ya" untuk salah satu dari pertanyaan di atas, ketahuilah, Anda sudah jatuh ke dalam takabur.

Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, "Pastilah orang yang takabur itu punya cacat dalam dirinya yang ia sembunyikan." Hadis itu saya kira sangat modern. Menurut Psikologi mutakhir, orang-orang yang arogan atau sombong di dunia ini sebetulnya adalah orang yang menderita cacat tertentu yang tidak kita ketahui dan mereka berusaha menutupinya.

Kita dapat mengobati perasaan takabur dengan istighfar dan bersikap tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain bersikap rendah hati. Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap tawadhu, maka hendaklah kamu bersikap lebih tawadhu lagi kepada mereka. Dan apabila kamu temukan di antara umatku orang yang bersikap takabur, maka hendaklah kamu bersikap lebih takabur lagi kepada mereka."

Membaca artikel ini pertama kali di salah satu bukunya yg berjudul THE ROAD TO ALLAH, dan ini copy paste dari blog tetangga karena aku mendapat banyak hal untuk introspeksi diri. Aku yang bukan siapa2 namun masih sering melirik kanan kiri. Aku yang masih belum mampu menjaga & mengontrol hati sepenuhnya. Yang pasti aku belajar to keep on fighting this arrogancy in every second in my life, berat, tapi harus bisa...InsyaAllah:)

Kamis, April 10, 2008

Kelengkeng Dalam Mimpi

“Barangsiapa di antara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Minggu lalu akhirnya jadi juga aku mendapatkan bibit unggul kelengkeng dengan jenis PINGPONG dan DIAMOND RIVER di daerah agrowisata Pekalongan Lampung Tengah, dan bibit buah belimbing DEWI or BANGKOK di pameran Flora 2008. Sebenarnya masih ada penyesalan knp baru membeli sekarang, dan berikut ini storynya.

Beberapa tahun lalu aku dateng di hari terakhir pameran pembangunan prop Lampung. Dan aku langsung kepincut dengan bibit unggul kelengkeng jenis SUGIRI, yang saat itu cuma tersisa 2 harga @60ribu. Menurut yang jual, kalau ingin yang lebih bagus beli langsung di tempat pembibitannya az karena yg ada pada saat itu udah sisa pilihan, walaupun masih tetap bagus. So, dg rencana ‘aku akan membeli ke tempat pembibitan secepatnya’ aku memutuskan gak jadi beli pada saat itu. Namun setelah kebali ke rutinitas kuliah lagi di Surabaya, aku jadi lupa dengan rencana mencari bibit ke tempat pembibitan yang notabene ada di daerah Lampung Tengah, karena waktu libur ke Lampung terbatas.

Tapi aku tetap belum bisa lupa dg keinginan itu. Sumpah aku menyesal bgt, coba kalau waktu itu aku putuskan untuk membelinya, mungkin sekarang aku udah punya pohon kelengkeng yang berbuah he2…

Ada lagi penyesalan waktu mendapat bibit belimbing bangkok di pameran Trubus sekitar 2 tahun lalu di lapangan Banteng. Dan karena sesuatu hal aku gak jadi membawanya ke Lampung tapi ditanam di tj Priuk, dan ternyata sekarang pohonnya udah berbuah beberapa kali, padahal cuma di tanem di pot, hiks…dan gak mungkin di bawa skrg karena udah besar. Btw aku pengen bgt punya pohon ini karena kepincut dg satu petani belimbing BANGKOK di Depok, dimana setiap melewati rumahnya yang dikelilingi puluhan pohon belimbing yang menggiurkan karena warna dan besarnya itu, aku selalu berkata dalam hati “aku harus bisa dapet bibit pohon dari yg punya”, tapi gak pernah kesampaian:-/

Tapi minggu lalu alhamdulillah, aku udah dapet bibit kedua pohon buah itu.
Kelengkeng yg jenis PINGPONG dengan harga bibit @100ribu, spesifikasinya sudah dapat berbuah setelah umur 1 tahun dan tidak musiman, so akan berbuah terus menerus sepanjang tahun dengan ukuran buah besar2 mendekati bola pingpong, itu sebabnya diberi nama PINGPONG.
Yang jenis DIAMOND RIVER dengan harga bibit @50ribu, spesifikasinya dapat berbuah maksimal setelah umur 2 tahun tapi musiman, dan buahnya tidak sebesar yang jenis PINGPONG.
Oh ya, bibit ini ada sertifikatnya loh, so bergaransi kalau tidak berbuah setelah jangka waktunya maka uang akan dikembalikan or ganti bibit. Kalopun gk berbuah kayaknya gk mungkin deh ya aku mo capek2 kesana lagi setelah waktu 1 tahun…he2. Aku sih nanem dengan bismillah az, semoga bisa hidup dan berbuah.

Dan sekarang aku sudah punya masing2 3 pohon kelengkeng PINGPONG & DIAMOND RIVER, 1 pohon belimbing BANGKOK dan 1 pohon jambu air JAMAICA. Semoga bisa tumbuh dengan baik seterusnya. Kalo rambutan dan mangga masing2 sudah ada 4 pohon di sekeliling rumah dan sudah berbuah, karena yang rambutan bahkan ada yg umurnya lbh tua dari aku. Kenapa aku lbh suka nanem pohon buah, karena seru az n bisa dimakan he2. N pengen bgt bisa punya kebun buah gitu di sekeliling rumah. Nanem bunga sih seneng juga, punya beberapa koleksi tp cuma utk menghijaukan rumah az.