Sabtu, Oktober 18, 2008

Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma

SUKSES film ”Laskar Pelangi” dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah satu penerbit di bawah Mizan Publishing.

Kalau boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai orang,” kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing.

”Kami juga senang karena—istilah ’ge-er’-nya teman-teman (di Mizan)—film ini Mizan sekali. Dalam arti, ada unsur agamanya, tetapi menekankan pada akhlak, pendidikan yang tidak mengukur anak-anak dari nilai akademis seperti dikatakan Pak Harfan, kepala sekolah di film itu, concern pada kemiskinan, menghibur tetapi berkualitas,” tambah Ketua Yayasan Lazuardi Hayati yang mengelola sekolah Lazuardi di Cinere dan Sawangan (Depok), Cilandak, Jakarta Barat, Lampung, dan Solo itu.

Menurut Mira Lesmana yang bersama Mizan Publishing memproduksi film dengan sutradara Riri Riza ini, selama dua minggu pertama Laskar Pelangi sudah menyedot 1,5 juta penonton. Bukunya sendiri, menurut Haidar Bagir, sudah terjual 500.000-an kopi, sementara karangan Andrea Hirata yang lain, Sang Pemimpi dan Edensor, masing-masing terjual 300.000-an kopi, dan yang keempat, Maryamah Karpov, segera terbit. Keberhasilan Laskar Pelangi membuat Mizan Publishing mantap melangkahkan kaki masuk ke industri film dengan memproduksi Sang Pemimpi.

Buku bagus dan keberuntungan

”Menurut saya, keberhasilan buku ini adalah gabungan antara buku bagus, waktunya pas, dan juga keberuntungan,” jelas Haidar.

Bagaimana cerita penerbitan Laskar Pelangi? Buku ini dikirim ke Bentang di Yogya oleh teman Andrea Hirata yang karyawan Telkom. Buku itu sempat beberapa hari tidak dibaca karena pikiran karyawan Telkom tidak biasa menulis buku. Ternyata isinya sangat menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi.

Kami tahu buku ini bagus dan akan laku, tetapi tidak tahu bakal selaku ini. Lalu Andrea Hirata bertemu saya di Bandung, membicarakan kemungkinan memfilmkan cerita itu. Terus terang waktu itu saya tidak terlalu optimis. Buku sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan Sinema (kemudian menjadi Mizan Production) baru berpengalaman membuat acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?

Kemudian buku itu diangkat dalam acara Kick Andy (di Metro TV) dan meledak. Sebelumnya, buku-buku kami juga diangkat dalam acara itu, tetapi tidak meledak seperti Laskar Pelangi.

Bagaimana menjadi film? Setelah buku meledak, kira-kira setahun lalu, mulai banyak sutradara menanyakan apakah akan difilmkan. Kami jadi optimis. Kami kontak Andrea dan dengan cepat memutuskan menyerahkan kepada Mira Lesmana dan Riri Riza karena mereka sukses menggarap Petualangan Sherina. Kami merasa cerita ini sedikit seperti film itu, ada menghiburnya, tetapi tidak kehilangan keindahan. Mizan tidak sendirian sebagai investor, saya mengajak Bachtiar Rachman, teman saya yang membikin sekolah Lazuardi Cordova di Jakarta Barat.

Keberuntungan Laskar Pelangi? Keberuntungannya karena diangkat dengan sangat baik oleh Kick Andy, besok paginya sudah ada beberapa orang dari toko buku antre di depan gudang kami. Tetapi, tetap yang paling utama memang bukunya bagus.

Agama cinta

Perbincangan dengan Haidar berlangsung di toko buku sekaligus kantor Mizan Publishing di Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Toko buku itu, demikian Haidar, lebih dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi berbagai komunitas, seperti musik, sastra, film, dan para ibu muda.

Tahun 1982, saat masih kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, bersama dua temannya Haidar mendirikan Mizan. Setahun kemudian mereka mulai menerbitkan buku. Kini, setelah seperempat abad, Mizan Publishing memiliki 12 unit usaha dan membagi saham untuk karyawan senior dan melalui koperasi.

Bila awalnya Mizan menerbitkan buku tentang agama, sejak tahun 1990 jenis buku yang diterbitkan diperluas. Buku agama saat ini 20 persen dari sekitar 1.000 judul per tahun. ”Mau cari buku resep masakan ada, buku tentang dekorasi, self help, sampai pendidikan,” tutur penerima penghargaan Best CEO 2008 versi majalah Swa ini.

Sikap dan pandangan hidup Haidar dalam mengembangkan pemikiran yang mengutamakan modernasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta pembangunan peradaban yang berkeadilan dan berorientasi sosial di atas landasan spiritual yang positif amat mewarnai Mizan.

”Kami tidak tertarik menerbitkan buku yang berhubungan dengan pendekatan syariah karena biasanya pendekatan hukum menyebabkan eksklusivisme. Bukan hanya antara orang Islam dengan orang di luar Islam, tetapi juga internal Islam sendiri. Atau buku yang memojokkan kelompok lain dari sudut pandang keagamaan.

”Sebaliknya, kami menerbitkan buku dari semua sumber. Ekstremnya, ada bukunya orang Muslim, buku yang ditulis pastor, dan juga yang mungkin dianggap sekuler, seperti Agama Cinta yang dekat dengan advokasi tentang civil religion. Sebetulnya buku itu sangat kontroversial karena mau mengatakan, agama itu sebetulnya cinta,” papar penerima tiga beasiswa Fulbright.

Kini dia sedang menyelesaikan dua buku berjudul Islam Agama Cinta; satu ditulis populer dan yang lain secara akademis dengan dilengkapi riset.

”Buku ini bukan hanya untuk orang luar, tetapi untuk orang Muslim sendiri. Ahli fenomenologi agama biasanya membagi agama ke dalam agama berorientasi nomos, hukum, yang dalam Islam disebut syariah; dan berorientasi eros, cinta.

”Biasanya fenomenologi tradisional memasukkan Islam ke dalam agama berorientasi nomos, hukum. Tetapi, melihat fenomenologi yang lebih belakangan sebetulnya kita harus melihat Islam sebagai agama yang tidak kurang-kurang berorientasi cinta.

”Saya ingin menunjukkan kepada kaum muslimin sendiri, di atas semuanya prinsip Islam adalah cinta. Hanya itu yang bisa membuat Islam terbuka karena pendekatannya kepada orang lain adalah kebaikan hati, berpikir positif, prasangka baik.

”Sementara, menurut Haidar banyak kaum muslimin yang menekankan keberagamaan pada syariah.

”Saya tidak mengatakan syariah tidak penting, tetapi harus mengacu pada prinsip Islam agama cinta. Kalau melihat agama hanya bersifat syariah, akan membuat orang menjadi eksklusif. Cinta itu merangkul semua dan membuat prasangka baik: semua orang sama baiknya, sama benarnya, sama salahnya dengan kita,” jelas Haidar.

Doktor filsafat Islam dari Universitas Indonesia ini juga membahas hal yang untuk beberapa pihak masih kontroversial. Misalnya, kekerasan dan perang.

”Islam agak khas dalam membuka peluang penggunaan kekerasan dan perang. Dalam buku ini saya tunjukkan betul, di atas semua itu prinsipnya tetap cinta. Perang dalam Islam hanya boleh dilakukan untuk melawan penindasan dan sifatnya defensif. Pada saat penindas siap duduk di meja perundingan, perang harus dihentikan.

”Dengan segala keterbatasan ilmu saya dalam hal ini, saya ingin menunjukkan kita harus melakukan paradigm shift, perubahan paradigma. Melihat Islam dari agama berorientasi hukum menjadi agama berorientasi cinta di mana hukum menjadi sarana kita memastikan setiap orang mendapatkan kasih sayang,” jelas Haidar.

Lalu juga tentang neraka. ”Prinsip kasih sayang itulah yang menjadi prinsip neraka. Neraka pada dasarnya bukan Tuhan menghukum manusia, tetapi apa yang dari Tuhan dapat dipersepsi berbeda oleh manusia,” tambah dia.

Haidar mencontohkan segelas air dingin yang menyegarkan untuk orang sehat dapat menyiksa untuk orang sakit.

”Itu saya coba ungkapkan untuk menunjukkan Tuhan tidak membuat sesuatu yang pada dirinya sendiri menyiksa, tetapi karena manusia tidak hidup dengan cara yang menyebabkan dia mendapat kenikmatan. Ini memang kontroversial, tetapi saya secara konsisten ingin membuktikan hal-hal tersebut.
-----------------------------
Kebahagiaan adalah MEMBERI
BILA ditanyakan kepada Haidar Bagir apa arti bahagia, dia akan menjawab memberi sebanyak-banyaknya.Ayah tiga putra dan satu putri ini mengaku terobsesi pada hadis Nabi Muhammad yang menyebutkan, ibadah untuk Allah adalah menyenangkan orang-orang yang hancur hatinya dengan memberi sebanyak-banyaknya kepada yang membutuhkan.”Yang hancur hatinya bukan hanya orang miskin. Sudah pasti orang yang miskin hancur hatinya, tetapi zaman sekarang banyak juga orang yang depresi dan butuh ditemani. Orang kaya pun kadang-kadang bisa hancur hatinya, depresi,” kata Ketua Yayasan Manusia Indonesia (Yasmin) yang bergerak di bidang pemberdayaan pendidikan kaum duafa ini.Dengan memberi, kata Haidar, orang akan menerima jauh lebih banyak sehingga dia menyebut memberi adalah tindakan paling mementingkan diri sendiri.Sikap dan keyakinan kebahagiaan adalah memberi sebanyak-banyaknya itu dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pendidikan di Lazuardi, mulai dari pra-TK hingga SMA.Karena itu, tujuan Lazuardi bukan mendidik siswa mencapai nilai akademis setinggi-tingginya, tetapi anak menguasai kemampuan dasar akademis, menumbuhkan rasa cinta pada ilmu, terampil mengembangkan ilmunya, serta punya kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan keprihatinan sosial tinggi. ”Itulah sumber kebahagiaan tertinggi,” kata Haidar.”Kebahagiaan adalah latihan, dia ada di ambang pintu kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengucapkan selamat datang, tetapi kita sering tidak sadar dan tidak terampil untuk menyadari. Orang harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan bersyukur.”Kita sekarang ikut tren yang di tempat asalnya tidak dipakai lagi, yaitu kalau sukses dan punya uang banyak kita akan bahagia. Padahal, kebahagiaan terbesar adalah memberi,” tambah Haidar.Dengan keyakinan itu, Haidar meyakini yang pertama-tama harus dibangun adalah akhlak, baik pribadi maupun sosial.Alasan dia, akidah seseorang hanya akan kuat bila akhlaknya baik. ”Bagi saya akidah, ibadah, itu ujungnya akhlak pribadi dan sosial, hubungan sesama manusia,” kata Haidar.Akhlak yang pribadi, seperti tidak dengki dan tidak pamer dalam kebaikan, menurut Haidar, seharusnya menjadi inti pendidikan. Tetapi, dia mengakui, tidak mudah menjelaskan kepada orangtua murid yang kadang-kadang masih mengukur dari nilai akademis.”Pelan-pelan kami yakinkan yang penting mengajarkan anak berbahagia, yaitu kalau akhlaknya baik dan suka memberi dan menolong orang. Ini saya belajar dari diri sendiri. Kadang saya merasa kehilangan makna hidup sehingga saya secara sengaja mencoba memberi makna pada hidup saya,” papar Haidar.Itu dia lakukan dengan, misalnya, mengajak anak-anaknya pergi bersama untuk menguatkan hubungan ayah-anak.”Saya bilang kepada istri, bukan karena saya baik, tetapi saya menggunakan anak-anak untuk memberi kebahagiaan, memberi makna, pada hidup saya,” tambah Haidar. ”Kalau tidak secara sengaja memberi makna pada hidup, repot juga zaman sekarang. Kesenangan itu betul-betul hanya singgah. Kita mengejar sesuatu, begitu dapat, lalu hilang.” (NMP/BRE)
”Sumber: Kompas, Minggu, 12 Oktober 2008 "
--Ninuk Mardiana Pambudy & Bre Redana--

Sabtu, September 13, 2008

Laskar Pelangi - Nidji


mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya
laskar pelangi takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa raih bintang di jiwa

menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa cinta kita di dunia
selamanya…

cinta kepada hidup memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi takkan terikat waktu

jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi

menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa cinta kita di dunia
selamanya…

------------
Lagunya keren banget...ruh novelnya tertangkap, dan semoga ruh & spirit novel laskar pelangi jg dapat divisualisasikan dg baik dalam film yg dibuat Mira & Riri Riza.

Menyadari bahwa masih banyak 'bu Muslimah' yang lain di negara kita saat ini, semoga film ini dapat menginspirasi lbh banyak orang utk bermimpi utk INdonesia yang lbh baik!!:-)

Mo liat thrillernya? klik az disini Laskar Pelangi The MOvie or tayangan di kick Andy berikut KickAndy show: Laskar pelangi the movie



Catatan lamakoe...

Pemuda itu berkata padaku,"Siapa bilang Tuhan itu adil? Buktinya aku dan banyak orang yang lain ada di sini. Lihat! anak-anak kecil itu, mereka, bandingkan dengan mba, kehidupan mba, dan kehidupan orang-orang yang segolongan dengan mba. Mba bisa makan setiap hari, mba bisa tidur dengan nyenyak di malam hari di atas kasur empuk dan aman di dalam rumah. Mba juga bisa sekolah, mba belajar mengaji, mba bisa jalan-jalan ke mal. Sementara kami di sini? Kami tidak pernah diberi kesempatan memilih, kami tidak ditanya ketika akan lahir ke dunia. Kalau kami ditanya, pasti kami tidak akan pernah mau untuk dilahirkan hanya untuk hidup di sini, dan dari orang tua yang entah kami tidak pernah tahu siapa"
---------------------------

Mba Is namanya, aku berteman dengannya sejak aku kelas 1 SMP, 17 tahun yang lalu. Usianya menjelang 40 tahun, sejak lahir tubuhnya cacat fisik, tangan kiri hanya sebatas siku, tangan kanan sebatas pergelangan tangan, tanpa jari yang sempurna, kaki kanan juga sebatas lutut, dan kaki kiri sebatas pergelangan kaki.

Suatu saat, ketika kami sedang bcanda ria......
"Jika aku meninggal nanti, aku harus masuk surga", dia berkata sambil tertawa
"Kalo tidak mba?", tanyaku nakal
"Oh, kalau enggak aku akan protes. Bagaimana mungkin aku yang terlahir seperti ini, mosok di akhirat masih harus sengsara lagi. Apa kamu gak tahu gimana perasaanku selama ini. Aku sudah rela sejak kecil menjadi bahan tertawaan anak-anak kecil. Apa bisa kamu bayangin, yang ngetawain anak kecil loh. Aku selalu pengen nangis sebenarnya. Tapi aku cuma bisa bersabar. Seumur hidupku aku sabar. Kurang sabar apa lagi aku? Pokoknya awas aja, kalo aku sampe gak masuk surga nanti" lanjutnya sambil tertawa.
Aku menelan ludah. Apakah dia betul tertawa? ...namun aku ikut tertawa kecut.

Aku tidak pernah berani untuk bertanya apakah yang dia berani untuk impikan selain surga? Sejak kecil tidak sekolah, jadi mana mungkin dia memimpikan punya karir bagus dalam pekerjaannya atau memiliki satus sosial yang tinggi di masyarakat. Apakah dia juga pernah jatuh cinta sepertiku? Apakah dia juga pernah bermimpi ingin menikah dengan laki-laki itu suatu saat nanti? Apakah dia juga berani bermimpi melahirkan anak dari rahimnya? Ya Allah, dengan kehidupan seperti itu sejak kecil, apa sebenarnya maksud-Mu untuknya? peran apa yang sebenarnya harus dia mainkan di dunia ini? Atau Engkau melakukan keteledoran ketika menciptakan dia? Lalu apa yang harus dia lakukan untuk kehidupan di sekitarnya saat ini? aku sungguh tidak mampu menebak. Aku hanya tahu keberadaannya adalah ujian bagi kami orang-orang di sekitarnya. Untuk senantiasa melihat kuasa-Mu. Untuk senantiasa merasa malu jika kami mengeluh atas segala kebaikan dan kenikmatan yang Engkau berikan pada kami selama ini. Tapi untuknya? sekali lagi aku belum bisa menebak.

-aku yg malu padamu-


Selasa, September 09, 2008

Sadarku

Aku terlahir dari kedua orang tuaku, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku berada di dalam keluarga, lingkungan, dan tempat tinggalku, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku memiliki dan bertemu dengan teman-teman dari segala arah mata angin, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku mendapat karunia-Mu untuk segala indra dalam tubuh fisik dan rohani yang Engkau percayakan padaku, adalah tidak di luar rencana-Mu
Aku tidak pernah dapat memilih aku ingin dilahirkan oleh siapa, dimana, di negara mana, bersuku apa dan beragama apa
Aku berada di titik ini, saat ini, adalah tidak di luar rencana-Mu

Ya Allah...
Ampuniku, jika aku pernah mengeluh dan membandingkan dengan milik orang lain atas segala ketetapan-Mu atasku
Ampuniku, jika aku pernah mengeluhkan segala tantangan yang Engkau percayakan untukku
Ampuniku, jika aku belum mampu mensyukuri segala kesulitan dan ujian yang Engkau berikan dalam setiap detik hidupku
Ampuniku, jika aku belum mampu memahami dan mengikuti seluruh petunjuk yang telah Engkau berikan

Ya Allah...
Aku hanyalah satu dari sekian mahluk ciptaan-Mu, yang senantiasa tidak memiliki kuasa apapun untuk mengubah ketetapan-Mu
Aku hanyalah satu dari sekian mahluk ciptaan-Mu, yang harus memainkan peranan sesuai dengan skenario-Mu di bumi ini
Aku hanyalah 'pemain' yang hanya Engkau beri kesempatan satu episode dalam kehidupan ini
Aku bukan siapa-siapa...tanpa-Mu

Ya Allah...
Bisikilah hatiku selalu...
Agar aku dapat berlaku seperti yang Engkau kehendaki...

Hanya untuk mendekati jalan menuju-Mu...

Lampung, Ramadhan 1429H
---------------------------

Surga untuknya

"Mba, apa yang akan masuk surga cuma orang-orang yang bisa mengaji?", tanyanya suatu saat.
"Emmm, mestinya enggak", jawabku sekenanya, "Emang kenapa?"
"Kalau emang surga cuma untuk yang bisa mengaji, sekali lagi Tuhan gak adil. Enak dong, anak-anak yang terlahir di lingkungan pesantren, atau keluarga kiai minimal. Dari lahir udah punya bakat masuk surga. Terus mereka menikah dengan keluarga pesantren yang lain juga. Berarti surga udah dikapling untuk mereka saja? Lah kalau kayak kita ini? Boro-boro belajar ngaji, nyari makan aja belum tentu dapet. Orang tua aja gak punya, sodara gak punya. Gak ada yang tanggung jawab ngajarin kami ngaji. Makanya kebanyakan dari kami ya jadi gelandangan atau preman seterusnya. Itu namanya dis...dis...nasi apa mba?"
"Diskriminasi maksud kamu?"
"Iya, pokoke gak adil kalo gitu"....kalimat ini mengaung-ngaung di telingaku

Aku teguk teh botolku dengan pelan. ……Apakah mungkin Tuhan Sang Maha segala-galanya, yang memiliki kuasa tak terbatas dan tak terjangkau oleh akal manusia, yang memiliki segala sifat kebaikan 99 Asmaul Husna, mungkinkah dapat melakukan kekeliruan atau ketidakadilan atau diskriminasi macam itu? Rasanya tidak. Bukan, bukan rasanya, tapi pasti tidak. Namun bagaimana penjelasannya, karena aku juga tidak tahu.

Surga...surga...aku sungguh tidak tahu harus menjelaskan seperti apa ttg hal ini pada dia, karena apa yang dikatakan olehnya memang logis. Logika yang telah sangat memasyarakat. Manusia yang baik-baik dengan ciri-ciri rajin beribadah logikanya akan masuk surga, sedangkan yang sebaliknya preman-preman, penjahat yang banyak ada di komunitasnya akan masuk neraka –beberapa malah ada yang masuk penjara lebih dulu- karena tidak pernah beribadah. Namun masalahnya, bagaimana jika mereka bukannya tidak mau beribadah, tapi tidak pernah tahu caranya beribadah, sepertinya.

But at last, aku menjawab pertanyaannya bahwa aku dan kita semua harus percaya pada-Mu, bahwa Engkau memiliki mekanisme perhitungan sendiri, yang tidak sama dengan perhitungan matematika kami di dunia. Bahwa Engkaulah Sang Maha Tahu atas segala-galanya, Engkaulah Sang Maha Memiliki rencana atas setiap detik kehidupan kami. Yang harus kami lakukan hanyalah berusaha melakukan segala sesuatu dengan Bismillah (orientasi hanyalah pada-Mu), belajar tanpa henti, berbuat sebaik-baiknya, tidak menyakiti orang lain, agar kami dapat terus membaca --membaca petunjuk-Mu, membaca alam-Mu, membaca lingkungan sekitar, membaca kehidupan ciptaan-Mu--.

"Jadiiii...surga juga masih terbuka untuk kita kan mba?"
"InsyaAllah masih, kan nothing impossible buat Sang Maha Kuasa, tahu artinya gak? Artinya gak ada yg gak mungkin untuk Allah kalau Dia berkenan.
Kamu percaya gak kalopun seluruh manusia yang pinter2 di dunia saat ini dikumpulin jadi satu, aku yakin kalo itupun belum tentu mampu memahami seluruh maksud-Nya kepada kita di dunia ini, apalagi memahami yang di akhirat nanti, yang mengaku tahu bisa jadi juga cuma ‘merasa tahu’, tapi belum tentu mutlak bener juga kan? Kita berdoa aja semoga Allah memberi rahmat-Nya pada kita semua, karena aku pernah baca manusia yang masuk surga bukan karena ibadahnya namun karena rahmat-Nya"
“Maksudnya? Lah katanya manusia harus beribadah untuk masuk surga?”
“Katanya, karena ibadah manusia gak akan pernah cukup untuk membayar segala kenikmatan kita di dunia. Nikmat penglihatan, pendengaran, merasakan yang enak dan lezat, sampai nikmat mencintai dan dicintai”
“Kok mba tahu, katanya mba juga gak jago mengaji, mba juga bukan manusia yang taat beribadah, keluarga mba juga biasa-biasa aja”
“Lah kamu juga, udah tahu aku gak tahu kenapa tadi nanyanya ama aku? hayoo kenapa?”
“Ya mau nanya sapa lagi mba, mau nanya orang-orang di masjid itu kayaknya terlalu tinggi, takut jawabannya gak enak, kalo nanya sama yang di sini ya sama aja”
“Ya udah kalo gitu percaya aja ama jawabanku he3x. Yang penting kita berusaha, dan sebisa mungkin berubah lebih baik setiap harinya, sekecil apapun perubahan itu, pasti Allah ngeliat usaha kita”
“Tapi mba janji jangan sombong ama kita ya kalo udah kaya nanti”
“Oke. Tapi kamu juga janji gak akan nyopet dompet orang lain lagi, cukup dompetku”
“Yeee itu dah jaman jebot masih diinget juga! katanya udah ikhlas kok masih diinget-inget terus? Hahaha”

-bahagiaku ada pada bahagiamu-
-----------------------------------