Selasa, Maret 08, 2011

Mimpi untuk Anak-anak Desaku

Tuhan, sudikah Engkau bercengkrama lagi denganku malam ini? Malam ini rasanya aku sudah tidak terlalu emosi, aku mampu berfikir dengan sedikit lebih jernih, dan semoga tidak bercampur dengan air mata lagi…

Tuhan, rasanya aku melihat sedikit bagian dari masa depanku. Aku mohon tolong ingatkan jika aku melihat sesuatu yang salah Ya Tuhan. Aku melihat aku ada di kampungku bersama dengan anak2 itu, berkumpul dengan mereka dan saling berbicara tentang mimpi2 mereka. Mimpi2 yang selama ini belum pernah mereka ungkapkan kepada orang lain bahkan kepada orang tua mereka. Sebelumnya aku bercerita tentang Riyanni Djangkaru seorang presenter acara petualangan di salah satu stasiun TV di negriku, aku mengatakan kepada mereka “seandainya ketika aku kecil sudah ada seseorang seperti dia dan acara TV yang seperti saat ini, mungkin aku akan bercita-cita ingin menjadi presenter seperti dia. Dia bisa mengunjungi seluruh tempat2 indah di negri ini dan menyampaikan itu kepada seluruh warga negri, betapa itu adalah satu pekerjaan mulia menyadarkan kita bahwa negri kita memiliki anugrah luar biasa dari Tuhan, yang tentunya harus kita syukuri dengan cara menjaganya”. Ah Tuhan, aku sudah melihat sedikit sorot antusiasme dari mata2 mereka, anak2 di sekolah2 kampung itu. Lalu aku melanjutkan bercerita tentang keberhasilan seorang Bob Sadino sebagai seorang petani yang penampilannya gak kotor dan tidak melulu harus berlumpur karena dia bertani dengan ilmu, juga tentang Anne Avantie dengan bisnis kebayanya, juga tentang Yunna Tan seorang pebisnis roti dan bakery atau Sonny Haji pemilik bisnis bakso paling terkenal di provinsi tempat kami tinggal. Aku juga menyampaikan bahwa ada banyaaaaak sekali profesi2 yang ada di bumi ini yang mungkin mereka tidak tahu selain hanya guru, dokter, polisi, pilot, masinis, nahkoda atau bahkan PNS yang di kampung kami itu disebut sebagai profesi. Aku bercerita lebih banyak lagi tentang contoh2 profesi yang aku harap cukup membuat mereka tertarik untuk mencari tahu dan bisa memancing mereka untuk “berani bermimpi” tentang keinginan mereka menjadi apa di masa depan.

Di lain hari kami beramai2 mengerjakan ketrampilan tangan mulai dari membentuk bermacam2 bentuk gerabah dari tanah liat yang mereka cari sendiri dari sumber2 yang semakin sedikit jumlahnya itu, kemudian ada juga yang menyulam, menjahit, membuat lampion dr kertas, tas2 dari kertas kalender, membuat peta dan hiasan dinding dari koran2 bekas, membuat kerajinan tangan dari pelepah pisang kering, memahat bambu menjadi hiasan dinding dan lain2. Kami menjadwalkan ini rutin setiap 2 minggu sekali.

Di lain hari lagi, kami berkelompok2 untuk memainkan permainan tradisional yang dulu sering aku mainkan bersama teman2 kecilku namun sekarang sudah semakin menghilang. Kami bermain gobak sodor, bentengan, patok lele, samberan, bola kasti dan lain lain. Oh Tuhan, aku baru menyadari bahwa semua permainan itu sangatlah berperan besar dalam proses pendidikan dini. Semua permainan itu mengajarkan kami akan pentingnya kerjasama, kekuatan, keuletan, strategi, dan kreatifitas yang tinggi karena di tengah keterbatasan kami harus mengoptimalkan semua ide untuk menyediakan segala prasarana untuk kami bermain. Kami memanfaatkan bambu tak terpakai, kami memanfaatkan kayu untuk membuat garis, kami memanfaatkan pucuk2 daun sebagai alat untuk bermain (aku lupa nama permainannya apa he2), dan kami juga memanfaatkan kertas kertas bekas untuk membentuk bola kasti. Dan yang pasti kami ingin memenangkan setiap pertandingan, yah kami ingin menjadi pemenang. Dan akhirnya kami semua kelelahan, berkeringat, namun kami semua tertawa bahagia. Kami juga menjadwalkan ini 2 minggu sekali.

Di sela2 itu semua Tuhan…aku juga berkumpul dengan para orang tua mereka. Aku menyampaikan niatku kepada mereka. Aku menyampaikan kegelisahanku kepada mereka. Aku menyampaikan pengalaman2ku selama ini dan pelajaran2 apa yang aku terima dan aku ambil dan ingin aku dedikasikan kepada anak2 di kampungku. Aku adalah anak yang lahir dan besar di kampung yang sama dengan anak2 mereka. Aku juga bersekolah di sekolah yang sama dengan anak2 mereka, diajar oleh guru2 yang sama. Jika aku pernah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati rezeki yang luar biasa selama ini, maka sekarang adalah saatnya aku berbagi kepada mereka, bahwa anak2 mereka juga pasti layak mendapatkan sesuatu melebihi dari apa yang aku dapatkan. Aku tidak ingin mengajari mereka namun hanya sedikit mengingatkan bahwa tantangan untuk anak2 di era saat ini sangatlah berat dibandingkan dengan masa2 aku kecil. Anak2 harus berjuang di tengah maraknya pornografi, konsumerisme, dan tidak siapnya pemerintah dalam menyediakan pendidikan yang benar2 patut bagi mereka. “Lalu apa yang harus kami lakukan?” Tanya mereka. “Mari kita bersama2 bergandengan tangan, ada saya, bapak ibu sekalian, bapak ibu guru, dan bapak-ibu pensiunan guru2, pak ustad, pak lurah dan semua yang ada di kampung ini kita bersama2 melakukan yang terbaik untuk anak2 kita” jawabku dengan tersenyum dan berharap penuh. “Saya tidak akan tinggal disini sepenuhnya, karena suami saya tidak tinggal disini tapi insyaAllah saya berjanji untuk mendampingi hingga semua ini berjalan dengan baik”.

Setelah itu Tuhan, kami bersama2 mendirikan perpustakaan, kami menyumbang berapapun semampu kami untuk mengisi perpustakaan itu. Kami juga menyediakan satu papan koran di salah satu lokasi strategis, sehingga anak2 sekolah, bapak ibu dan siapapun bisa membaca koran setiap hari tanpa harus berlangganan sendiri. Dan itu semua dikelola oleh anak2 pemuda pemudinya.

Kami juga mengadakan pertemuan rutin bulanan untuk sekedar berbagi informasi khususnya dengan ibu2, dan kami menyebut ini sebagai forum sekolah ibu. Ibu memiliki peran yang sangat-sangat penting, sehingga harus selalu mengupdate pengetahuan untuk sedikit mengimbangi anak2 mereka berpacu dengan kemajuan jaman. Aku berharap dari forum ini akan ada ide2 usaha kecil yang bernilai ekonomi sehingga dapat menambah penghasilan bagi mereka.

Tuhan, aku tidak ingin melakukan ini sebagai pelampiasan keinginan sesaat saja. Aku ingin ini dapat berjalan dengan baik sehingga sedikit memberikan alternatif kegiatan dan konsentrasi anak2 itu yang selama ini telah dikuasai oleh TV (sinetron), internet (facebook), HP (sms dan video), film2 dari VCD bajakan, pacaran, nongkrong dan acara lain yang tidak cukup bermanfaat bagi kehidupan mereka.
Oh ya, hal penting yang menjadi harapanku adalah bahwa mereka, anak-anak itu, dapat menemukan mimpi2 mereka yang tidak melulu harus lewat sekolah formal namun harus sesuai dengan hati, minat, dan bakat mereka. Membiarkan mereka memilih masa depan mereka sehingga bisa profesional dalam menuntut ilmu dan menjalankan pekerjaan mereka kedepannya. Itu semua untuk kehidupan yang lebih baik, dan untuk negriku yang lebih baik.

Aku menginginkan ada upaya membangun integrated education system yang melibatkan seluruh stake holders mulai dari anak-orang tua-guru-dan seluruh masyarakat. Aku berharap ini akan berjalan dengan baik, dan berhasil sehingga bisa menjadi satu format program bagi kampung2 yang lain, sehingga semakin banyak anak2 yang “terselamatkan” dari dunia kapitalis yang ada saat ini.

Edisi BERMIMPI
Groningen, 3 Maret 2011, 11.50 pm

Minggu, Februari 27, 2011

si "Anak Mataharie" yang sedang galau

Galau dan gelisah...mengapa dua perasaan ini semakin sering datang dalam hari2ku?
Apa karena aku si Anak Matahari? sementara 6 bulan disini aku jarang bertemu dengan the real matahari? Dia jarang muncul, dan sekalinya muncul aku tidak merasakan panas atau bahkan hangatnya...

Mungkin itu sebabnya. Aku merindukan matahari. Aku merindukan hangat dan panasnya. Aku merindukan semangatku yang dulu.

Groningen, 28 Februari 2011.

Senin, Januari 31, 2011

Bahaya salah jurusan?

Tersesat! Yup…terlebih lagi jika kita salah memilih jurusan ketika naik bis di terminal or salah memilih track kereta ketika di stasiun. Namun tersesat disini masih dapat “dinikmati” apalagi jika kita tersesat ke perjalanan yg ternyata ternyata penuh dg hal hal yg menarik, seperti yg Paulo Coelho katakan “Sometime the "wrong" train can take us to a fantastic place”, unpredictable journey memang terkadang tdk memberikan banyak pilihan selain menikmati saja apalagi kalau itu membawa kita dalam fantastic journey…

Namun, bagaimana jika konteks salah jurusan ini adalah salah memilih jurusan ketika sekolah? Minat bakat di bidang sosial tp sekolah jurusan eksakta atau sebaliknya, dan bahkan tersesatnya bisa terus berlanjut hingga kuliah atau hingga bekerja. Di negri kita, hal ini akan banyak ditemui karena penjurusan dilakukan ketika SMA dan dengan aturan main yg msh “luas”, jadi kita terpaksa mempelajari sesuatu yg mgkin sebenarnya tdk kita sukai atau kita butuhkan bertahun2. Seperti anak2 yg minat bakatnya di bidang olahraga, seni, desain, memasak dll misalnya, karena penjurusan ini tidak begitu favorit, tidak umum dan tidak “menjanjikan = baca gambling”, maka tetap mereka harus menjalani SMP, SMA, kuliah. Saat ini aku baru menyadari bahwa sistem itu tampak membuang2 umur.

Contoh real adalah aku. Aku akan memulai bercerita ttg perjalanan “salah jurusan” yg aku alami. Ketika SD, aku tidak tahu cita-citaku yg sebenarnya itu apa. Standar seperti yg lain satu saat ingin jadi guru atau dokter, dan pernah ingin menjadi penyanyi juga. Tidak pernah terbersit dlm fikiran ingin menjadi petani atau penyiar TV. Karena dulu yg umum di sebut oleh ibu/bpk guru adalah profesi2 standar termasuk polisi dan pilot, maka ya hanya itulah pilihan yg kami punya. Selanjutnya, ketika SMP, masih tetap tidak ada perubahan berarti dalam urusan per-MIMPI-an, belum memiliki ambisi ingin menjadi apa. Ketika SMA, masih sama. Hanya satu bekal yg kupunya kalau aku lebih suka pelajaran eksakta matematika dan kimia (tanpa fisika dan biologi), karena aku tidak memiliki daya ingatan yg baik utk mata pelajaran sosial. Namun pada saat itu sebenarnya sudah sedikit mengerucut kalau ingin menjadi guru seperti kedua orang tua, yach mungkin guru kimia atau matematika.

Berlanjut hingga lulus dan akan kuliah. Ternyata aku masih bingung ketika akan memilih jurusan. Ingin menjadi guru namun pada saat itu jurusan keguruan tidak begitu diminati, kurang keren dibandingkan jurusan teknik, kedokteran, hubungan internasional dll. Padahal ibuku sudah merayuku untuk masuk fak keguruan saja, dan aku dengan sangat tegas menolak. Alhasil, hanya dengan berdasarkan faktor “keren” aku memilih jurusan teknik kimia, 1: fak teknik tampak keren/macho dan 2: krn aku suka kimia, dan kenapa di Surabaya hanya karena aku ingin lebih tahu ttg Jawa Timur daerah asal kedua org tuaku.

Well, baru mungkin 2 bulan aku sudah merasakan bahwa aku sudah “salah jurusan”. Mata kuliahnya gak banyak kimia tapi fisika, dan ternyata outputnya lebih banyak diarahkan ke industri. OMG. Kemudian aku mengajukan utk pindah jurusan ke orang tuaku, namun orang tuaku hanya menjawab “dulu kamu memilih dg sendiri, tanpa dipaksa, sudah disarankan utk yg lain tp menolak, sekarang tanggung jawab, selesaikan”. Ya sudahlah. Terpaksa aku menyelesaikan kuliah hingga akhirnya lulus juga.

Setelah lulus, gak berminat untuk apply2 ke perusahaan2, karena memang masih gamang inginnya kemana. Ingin jd guru anak2, tp kok ST alias sarjana teknik, mana ada SD/TK yg akan menerima, dan juga rugi sekali sudah susah-susah kuliah teknik sampe rambut menjelang rontok. Sempat melirik ke program master Psikologi Anak di UI, langsung tertahan karena pertanyaan “eh? Nyambungnya dimana? Emang bisa dg background kimia??”, iya juga yaaa…

Trus?? Aku pengen jadi guru, atau petani tp kok gak ada yg nyambung. Mencoba bekerja di industri, 2 kali pindah tempat, dan sempat di salah satu perusahaan multinasional yang pernah kuimpikan ketika kuliah (walau memang tidak ingin lama-lama), selain aku gak suka dengan ritme 8-5 alias dari jam 8 ke jam 5, namun itu semua tidak dapat "memenuhi kepuasan jiwa" melainkan hanya isi dompet. Lagi-lagi aku lebih suka bergaul dg dunia “pendidikan anak2”, tp lagi2 ST kok guru SD. Kemudian jd dosen, satu2nya pilihan yg paling dekat dg “guru”, walaupun bukan guru anak2 tapi aktifitasnya mirip. Namun impianku untuk tetap berkiprah di pendidikan anak2 masih tetap menyala2, khususnya di pedesaan. Mencoba menyediakan perpustakaan mini di rumah untuk bisa diakses anak2 semenjak baru lulus dr kuliah, meskipun sekarang koleksi semakin berkurang karena tidak disertai manajemen dalam mengelolanya, jadi lebih banyak yg dipinjam dan tak kembali.

Dan saat ini ketika sedang menempuh program master dg jurusan yg sama di negri kincir angin, melihat teman2 kuliah dan juga masyarakat dengan culture yang begitu mapan, aku menjadi iri. Aku langsung membandingkan dengan diriku sendiri dan dengan negriku secara umum. Sistem pendidikannya. Daya dan gaya belajar mereka dll.

Setelah lirak lirik kanan kiri, ngobrol kanan kiri, aku tersadar, dan aku tidak ingin apa yg menimpa diriku terjadi pd banyak anak2 lain di negriku. Aku tidak ingin umur mereka tersia2, aku ingin berbagi mimpi, melakukan sesuatu. Mimpiku utk mengenalkan negri dan dunia kepada adik2 khususnya di pedesaan yang sulit mengakses info2 baik dari sekolah, apalagi keluarga dan masyarakat. Mereka harus memulai mimpi mereka sedini mungkin, dan mengupayakan pencapaiannya juga dari sedini mungkin. Mereka harus berani bermimi, karena mimpi adalah gratis, mimpi adalah doa. Jika aku yg juga wong ndeso, yg telat “serius bermimpi”, aku juga bisa ada disini saat ini, tentu mereka yg bisa bermimpi sedari kecil akan dapat mencapai yg jauh jauh jauh lebih dari apa yg Tuhan berikan ke aku. Dan besar harapan akan tumbuh lebih banyak orang2 yang profesional dalam membangun bangsa, karena mereka akan bersekolah dan bekerja dg sepenuh hati, tidak ada lagi salah jurusan.

Jika Tuhan berkenan mempergunakan tangan, otak dan hatiku untuk berjuang di jalan ini, aku senantiasa memohon petunjuk dan kemudahan untuk memulai dan merealisasikannya. Sungguh aku ingin melihat negriku lebih baik, aku ingin melihat binar optimis di mata anak2 yg penuh mimpi untuk masa depannya, masa depan Ibu Pertiwi yang lebih baik...

Groningen, Januari 2011.

Jumat, Januari 28, 2011

Selamat Ulang Tahun

Menguntai doa semoga kasih sayang Allah senantiasa tercurah untukmu, suamiku...
Maaf untuk tidak bersamamu kemarin, saat ini, dan beberapa waktu mendatang...

Doa dan peluk cium selalu dari belahan dunia yg lain...
Luv u

-26 Januari 2011 Waktu Negriku-

Sabtu, Januari 22, 2011

Just a thought (1)

“Lumayan” sukses dg satu project mata kuliah tentang sistem perlistrikan di Indonesia dianalisis dr sudut pandang sustainability jd terfikir macem2. Studi yg kami lakukan kemarin ditekankan pada kondisi saat ini dan skenario apa yang bisa dikonstruksi dari kondisi, potensi natural, teknologi yg tersedia dengan melihat semua stakeholder yang dapat diperhitungkan, dan tentu saja kami dibekali dengan beberapa macam tools untuk media analisis. Dari project ini membuatku berfikir lebih lanjut tentang peluang yg bisa dimanfaatkan dari keberadaan mahasiswa yg sedang studi di luar.

Awalnya case yang diberikan utk grup kami adalah kondisi perlistrikan di Eropa secara umum, dan memilih salah satu negara sebagai fokusnya. Namun setelah diskusi lebih lanjut, dosen, asisten dan anggota grup sepakat dengan Indonesia (which is melenceng dr tujuan), karena dosen merasa itu lebih menarik karena bbrp hal di antaranya fakta bahwa “Indonesia sebagai anggota APEC, telah berganti menjadi net importer dan bukan exporter lg”, bagaimana bisa? Dan “bagaimana masih ada 1/3 dari negara yg masih belum terakses listrik sementara kita memiliki potensi energi yang cukup besar?”. Dan akhirnya, jadilah selama 2 bulan grup kami melakukan project ttg Indonesia, dan hasilnya untukku pribadi, at least aku jadi “lebih mengerti” tentang negeriku.

Hal yg terfikir olehku adalah mungkin pemerintah bisa memberdayakan mahasiswa2 yang sedang studi di luar untuk melakukan project2 sebagai studi banding praktis (mungkin bs disebut preliminary study) untuk mengkomparasi sistem di negri kita dan sistem di negara tempat studi. Sebagai contoh, jika ingin mempelajari sistem pertanian di Belanda misalnya, bisa meminta beberapa mahasiswa yang sedang studi di Wageningen (WUR) untuk melakukan studi tentang itu, lengkap dengan konstruksi skenario apa yang bisa atau seharusnya bisa diadopsi untuk dilakukan di Indonesia. Atau tentang sistem manajemen kesehatan, manajemen distribusi obat2an, sistem transportasi, sistem persampahan, pendidikan, pendidikan seks dll. Project bisa dilakukan di sela2 kuliah atau ketika libur atau kapanpun mahasiswa bisa, dan bisa berbagi tugas siapa menganalisis apa. Tentu saja harus ada reward untuk itu, alihkan anggaran dari membiayai studi banding anggota dewan ke gerakan ini. Aku pikir ini akan jauh lebih efektif dibandingkan mengirimkan rombongan anggota dewan utk melakukan studi banding, tp cukup kirim 1 org saja. Dari sisi anggaran dan keefektifan, dan paling penting dapat dipertanggungjawabkan, aku pikir akan jauh lebih bisa dioptimalkan. Ini jika pemerintah mau lebih serius untuk melakukan perubahan. Menggerakkan putra putri bangsa untuk “bringing knowledge & value to Indonesia….” alias untuk nyontek alias untuk sekaligus jadi "mata-mata" di negeri orang ketika menempuh studi...^_^

(sangat menghayalkah aku? mungkin...)

Groningen, 22 Januari 2011.